Keajaiban

Apakah syarat mendefinisikan magic? Atau keajaiban? Syarat dari magic atau keajaiban yang aku sadari ialah, hal itu hanya terjadi sebentar. Sepersekian detik, sepersekian menit, tapi tidak lebih dari sejam, sejam adalah yang paling lama.
Contohnya: kembang api, sulap, pelangi, gerhana dan masih banyak hal-hal lainnya.
Apabila kembang api hanya terjadi beberapa detik alias sebentar, maka orang-orang akan menyaksikannya berduyun-duyun dan akan terpaku dengan keindahannya, tapi bayangkan apabila kembang api itu meledak dan pause selama 3 hari dilangit, 5 hari, 10 hari, sebulan, setahun, 10 tahun, 30 tahun, selamanya, apa yang akan terjadi? Orang-orang mungkin hanya akan lewat, tetap berjalan, dan menoleh sebentar mungkin hanya sekadar mengecek. Orang-orang tidak akan terpukau, terpana, berteriak, bahkan bertepuk tangan lagi menyaksikan keindahannya, tetapi sebab ia sebentar, maka orang-orang menganggapnya sebagai magic atau keajaiban.
Ya, karena ia “sebentar” maka ia begitu istimewa.
Pelangi hanya terjadi sebentar, maka ia dianggap istimewa, bayangkan jika pelangi akan tetap ditempat yang sama sepanjang tahun, 100 tahun, maka orang-orang hanya lalu lalang dan lewat.
Beberapa orang yang tak pernah berkunjung melihatnya mungkin akan terpana sebentar, tapi mungkin takkan menoleh lagi karena mereka tahu itu takkan hilang.

Merenungkan ini aku terpejam, dan membayangkan bahwa diluar sana, dilangit ada bulan, ada bintang, ada pepohonan, ada alam.
Bagaimana bila kita tidak bisa melihat bulan selama yang kita mau, dan ia hanya dapat dilihat sebentar? Bayangkan apabila kita hanya dapat melihat bulan sepersekian menit, atau detik, maka kita mungkin akan berteriak, menunjuk, tercekat, dan terpana oleh keindahan bulan.
Bayangkan bulan, besar, indah, bulat, bersinar, berkilau, pelambang kuasa Tuhan, yang ada dilangit yang tinggi. Kita mungkin akan terpesona dan tak kuasa melihat keindahannya.
Tetapi karena ia selalu ada dikala malam, terus menerus, sepanjang malam, maka kita sering lupa untuk memandangnya, menyaksikan keindahannya, kita terlalu sibuk memikirkan makan malam dimana malam ini, film apa yang akan akan keluar bulan ini, atau sibuk memikirkan hal-hal lain, tak sadar bahwa ada benda begitu mega, yang melambangkan keindahan, menyihir mata, bergantung diatas kita, menunggu untuk kita kagumi. Tetapi tidak, bulan akan terus disana sepanjang tahun, sepanjang adanya malam, sepanjang adanya bumi.
Tetapi ketika terjadi gerhana, yang hanya terjadi beberapa detik, maka orang-orang akan sibuk menyaksikannya. Memotretnya, memuja keindahannya, bahkan bersyukur dan bertepuk tangan. Bayangkan apabila Gerhana itu akan ada berada di langit malam sepanjang malam.
Kemudian aku melihat anakku sekarang, kecil, lucu, berumur 10 bulan, yang sekarang, sudah dapat kupindah-pindah tangankan, tidak seperti dulu, ia aku inginkan selalu bersamaku, ia terlahir didunia begitu mungil, ringkih dan rapuh, wajahnya meminta belas kasih. Apakah saat itu aku menganggap ia keajaiban? Ya. Apakah ia masih aku anggap “keajaiban”? tidak.
Karena aku menganggapnya akan selalu ada, sepanjang hari, sepanjang tahun, sepanjang hidup. Selalu ada bersama kita, secara tidak sadar, keistimewaan itu seperti menghilang.
Kemudian aku menoleh, dan melihat suamiku sedang tidur dengan lelap disebelahku

Diluar sana ada ayahku, ibuku, saudara-saudaraku yang sehat, yang tak kekurangan apapun yang berarti. Yang mungkin saja semua itu, semua ini adalah ratusan magic atau keajaiban-keajaiban murni yang kita ‘abaikan’ karena alasan sederhananya ia berlangsung begitu lama.
Kemudian aku menangis, menangis beberapa bulir air mata bahagia, karena aku sadar, bahwa yang ada dihidup ini, semua yang terjadi kepadaku dihidup ini sebenarnya semuanya adalah keajaiban-keajaiban kecil, hanya “tidak” sebentar. Dan yangmembuatnya lebih baik adalah, keajaiban ini berlangsung lama, sangat lama.
Yang saking lamanya hingga kita tidak menganggapnya lagi sebagai keajaiban.
Keajaiban yang begitu baik, sehingga ia tidak meminta untuk diistimewakan.
Keajaiban yang berlangsung begitu lama, hingga ketika ia memisahkan dirinya, kita tercenung, betapa banyak waktu yang kita nikmati tanpa kita sadari dengan keajaiban itu. Betapa kita memujanya, dan tak ingin ia pergi dan menghilang.
Aku kembali memejamkan mata,
Kemudian akhirnya aku dapat tertidur.
Semuanya menjadi gelap.
Dimimpiku, aku sedang bersepeda,
Dan aku melihat bulan yang sangat besar, bersinar, indah sekali.
Tak ragu-ragu lagi, terus kukayuh sepedaku sambil mengangumi keindahannya.

Advertisements

Book Review: Sapiens A Brief History Of Humankind

c9lw-square-orig

Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia

di review ini saya tidak akan membahas keseluruhan isi buku ini, sebagian besar review ini hanya akan membahas efek yang dihasilkan kepada saya ketika membaca bukunya.

tapi sebelum dimulai saya akan bilang,
1 kata tentang buku ini: mengasyikkan!

mungkin ini satu-satunya buku yang bukan fiksi yang nantinya akan saya baca untuk kedua kalinya. Something about this books makes me chill.

faktor yang bikin chill adalah karena buku ini membahas sebuah “gambar besar” bahkan “gambaran yang sangat besar” tentang bagaimana kita;manusia ada, dari mulai awal pra sejarah hingga sekarang. jadi kayak nge-zoom out jauh-jauh dari kenyataan/realiti yang ada sekarang. jauuuuh banget.

the zoom out kind of book is the best ever.

buku ini menurut saya masuk list: wajib dibaca, karena buku ini banyak mengandung “mengawang-awang factor” hehe, atau waktu-waktu dimana kita mengawang bebas disela-sela membaca buku gitu. atau istilah inggrisnya staring at the wall at the middle of reading.

kenapa?
karena kita akan “memikirkan” dan melamunkan banyak hal karena membacanya.
bagaimana jika kehidupan zaman modern seperti yang kita jalanin sekarang semata-mata hanyalah prasangka kita saja. Sama dengan umat manusia sebelum menemukan science (revolusi science).
mereka hidup apa adanya, dan nyaman akan itu, dan tidak sadar bahwa mereka ada di masa lalu. bagaimana kalau itu juga yang terjadi dengan kita sekarang, bagaimana kalau nanti anak cucu kita akan mengenang masa kita sekarang dengan seperti kita mengenang generasi 60an. atau saat transportasi terjauh bukan lagi antara negara timur ke barat, tapi antara planet bumi ke planet antah berantah. betapa purbanya kita sekarang ketika dikenang anak cucu kita nanti.

betapa anak cucu kita akan mengenang kita semua dengan rasa iba karena merasa kita tidak sempat mencicipi teknologi yang ada, atau bahkan harus mati karena penyakit-penyakit yang dimasa mendatang sudah ada penyembuhnya.
atau bisa juga merasa iri, karena kita mempunyai hidup yang lebih memiliki ‘makna’ dan aktivitas fisik, seperti ketika kita menghargai generasi zaman dulu.

perspektif itu membuat saya yang sekarang melihat anak saya yang sedang bermain terus tiba-tiba semuanya kayak lagi dikasi filter sephia. ha.

buku ini memberikan perspektif-perspektif baru dalam melihat diri kita, manusia, yang hidupnya sebenarnya sebentar kayak blink of an eye. kita hanyalah garis-garis lidi dari semua mahluk hidup yang pernah tinggal dimuka bumi, dan kita tidak special. ketika kita menganggap diri kita ‘special’ kita jadi membuat mahluk hidup yang lain kurang penting, seperti binatang-binatang yang punah, dan bahkan nantinya merusak kelangsungan hidup kita sendiri.

bab pertama dimulai dari era Pra Sejarah, atau pertama kalinya Sapiens ada dimuka bumi, dimana penulisnya bilang kalau mungkin saja ada diantara manusia purba ini yang ada yang sehebat atau bahkan lebih hebat dari manusia-manusia Renaissance, berlari sekuat macan, fisik yang benar-benar gesit seperti hewan pemangsa, kepala pemburu yang sangat kuat tapi tidak terdeteksi sejarah. karena belum ditemukannya metode dokumentasi apapun. Dan saya jadi tidak bisa menahan diri untuk berkhayal, seperti apa manusia-manusia ini. manusia yang kualitas fisiknya sangat prima, matanya setajam karnivora, yang hidup dengan sigap dan gesit karena nyawanya bergantung pada itu.

dan kemudian pada bab terakhirnya ditutup oleh science dan bagaimana nanti, suatu saat, manusia akan menciptakan versi manusia yang lebih baik dari sekarang atau disebut dengan Adi-Manusia. versi manusia yang mungkin akan hidup abadi, imun akan penyakit, akan tetapi keistimewaan ini terbatas hanya pada golongan atas yang berduit dan di tatanan sosial yang lebih tinggi, sehingga persoalan ini akan menimbulkan chaos.

karena itulah yang dikatakan penulisnya. sangat menyukai bagaimana penulisnya memiliki alur yang menaikkan harapan-harapan pembaca untuk kemudian menjatuhkan lagi kemungkinan-kemungkinan itu untuk seperti mengingatkan kalau sejarah terbentuk karena banyak faktor abstrak dan bukan karena faktor itu ‘benar’, tapi karena faktor-faktor tersebut dibengkokkan oleh berbagai macam campur tangan manusia, perang, sosial, timing, dan lain sebagainya.

Sapiens juga mengingatkan kita kembali bahwa manusia harusnya bersyukur menjadi satu-satunya mahluk yang memiliki kesadaran keberadaannya, juga mengingatkan kita bahwa kita sangat beruntung hidup dimasa sekarang dimana teknologi dan science membuat kita bisa bertahan hidup lebih lama. orang-orang tua tidak perlu takut kehilangan anak oleh penyakit yang kita anggap penyakit sepele sekarang, dan luka sedikit di kaki berarti amputasi dengan gergaji tanpa bius. I don’t want to live in that era.
dan ketika penulis berkata bahwa betapa ganjilnya ketika tatanan dunia sekarang sudah adem ayem. tidak ada lagi perang untuk memperebutkan wilayah.
it’s really a good time to be alive right?
🙂

—-

Tantra

Aku masih disini, duduk ditempat tidurku masih menganggap aku bukanlah bukan ibu yang terbaik untukmu, karena jujur saja, yang mengasuhmu itu banyak, ada Datok, Oma, tantemu yang libur kuliah, om-ommu yang bersedia menggendongmu itu, banyak, jadi masih bisa, aku disini, tak memegangmu, sambil kadang berjudi dengan pikiran (seringkali kulakukan akhir-akhir ini karena tak terbatasnya waktu luang) dan bertanya-tanya, segi ukur ibu yang baik, itu darimana?
kupandang wajahmu lekat-lekat, lalu aku berbisik dalam hati, saat kau sudah dapat kuajari warna-warna, sejak saat itu pula, kau takkan ku tinggal, “Aku berjanji akan selalu ada untukmu…” itu janjiku, bukan janji-janji yang lain.
jadi untuk sekarang, bolehlah kau dipegang berganti-gantian oleh keluarga, karena Omamu itu sangat sayang kau, apalagi datokmu. bolehlah ibumu ini leyeh-leyeh sambil menggurat kata-kata dan perasaan manis ini hanya untukmu.
jadi langsung Ibu mulai saja,
kau adalah senyawa terbaik yang lahir dihidupku, baru 4 bulan yang lalu kau ada, dan kau memberi tahu apa arti cinta sebenarnya. memilikimu memberiku dilemma antara “hanya bisa satu.” karena besarnya tanggung jawab emosional yang kusimpan dikepala, namun juga ingin yang banyak, biar rumah ini penuh cinta oleh manusia-manusia kayak kau.
kau adalah bentuk cinta paling sejati yang pernah kukenal. mencintaimu adalah sealami hidup dan melihat, tak ada percobaan, tak ada tanda tanya.
tak ada sesuatu atau seseorang yang bisa menghadirkan perasaan cinta sebesar namun semudah itu, dan untuk itu aku takjub memiliki kau. 🙂
pertama kali melihatmu adalah memori paling membahagiakan dihidupku dan akan selalu aku ulang-ulang dalam angan, kapanpun aku ingin merasakan cinta. untuk pertama kalinya dalam hidup, aku takut akan kehilangan sebuah memori, didalam kepalaku, ia akan tetap aku jaga, akan kujaga agar tetap terang, tak akan kubiarkan usang, seperti cahaya matahari dari jendela diruangan dokter hari itu, kala kau lahir.
karena kamu, “percobaan untuk bahagia” adalah konyol.
aku ingin meminta maaf, karena saat lahirnya kau, akupun sedang struggling dengan diriku dan pikiranku sendiri, untuk itu aku minta maaf, aku tidak sempurna.
tapi sekali lagi aku berjanji, “aku akan selalu ada untukmu!” kali ini aku bersungguh-sungguh.
hidup dan dunia ini mungkin tidak akan sewarna-warni dan seindah dinding yang kau lihat di Taman Kanak-Kanak pertamamu, dan tidak akan ada orang yang akan mengecat warna-warna itu selain dirimu yang memilih dan melihatnya. Tapi percayalah, Ibu mau hidupmu seindah itu.
tidak sengaja, aku torehkan ini semua, tepat dihari Ibu.
Happy Mothers Day, aku selalu berdoa hatimu seputih salju seperti hati bapakmu. setelah itu kau boleh jadi apa saja. Apa saja.
dan saat kau kesepian, ingatlah saat pikiranmu belum dapat fokus, dan kesadaranmu belum mantap, aku pernah memandang lekat-lekat wajahmu dan berkata dalam hati, “Aku akan selalu ada untukmu.”

layf.

aku harus melepaskan kekacauan ini. kekacauan yang terjadi.
aku harus buang segala penat ini, penat yang menghabisi.
sudah tak ada lagi sisa, hancur lebur semua.
sudah tinggal kerangka, tak ada yang dapat diolah.
semua kering kerontang, dibolak balikpun sama saja.

aku harus stop semua ini, sebelum aku benar-benar berlari.
atau menjadi sampan usang sekali lagi.
aku harus luruskan, jangan lagi banyak patahan.
tak ada lagi abstrak,
tak ada lagi IHWDsIaUGsjwdhUGJBX*&%&^$DTYFY%$DYT
semua harus berurutan secara alfabet. atau qwerty.

sudah terlalu lama menggenggam erat,
bagusnya dibuang.
sudah terlalu lama memegang kaku,
bagusnya dilepas.
tau yang mana direlakan, yang mana diatur.
tau mana yang disingkirkan, mana yang dirasa-rasa.

karena waktu pernah berlari disisi, tapi kemudian pisah rute dipersimpangan terakhir.
ia pasang wajah muram sambil melambai-lambai.
di sudut ada lampu jalan kuning temaram.
tapi kali ini aku sudah tidak takut gelap.

aku harus membalik dagingku yang sudah penuh asap.
aku harus membetulkan kepingan lego yang amburadul.
aku harus menyimak. atau mungkin tidak.
mungkin hanya perlu mengerjap, tidak perlu melotot.

hidup.

Goodbye\\

Saya benci beberapa hal didunia ini. Terutama hal-hal yang menyakitkan. Ada banyak hal-hal yang menyakitkan di dunia ini seperi dikhianati, dibohongi, diabaikan, diperlakukan tidak adil, beberapa diantaranya sudah pernah saya rasakan, tapi rasa sakitnya masih dapat terabaikan, walaupun kadang tidak mudah. Namun ada 1 hal yang paling saya benci dan itu adalah ketika seseorang meninggal dunia. Rasa sakit kehilangan orang yang sebelumnya ada bersama-sama kita dan tidak lagi bersama kita terus ia pergi adalah rasa yang makin saya coba pahami hingga sekarang. Ya, saya tau begitulah dunia ini bekerja, hanya saja, sepertinya saya–dan seperti banyak manusia lainnya–masih sangat-sangat belum terbiasa. Padahal itu adalah hal yang sangat nyata. Siklus yang sangat simple. Tapi ntah kenapa kita masih sulit menerima ketika itu terjadi pada orang lain atau kita. Kematian & perasaan ditinggalkan.

Beberapa waktu yang lalu om saya meninggal dunia. Ia salah satu om yang saya yang terdekat yang berada di masa kecil saya. Dia sudah lama didiagnosa sakit, namun masih beraktivitas seperti biasa, hanya saja ia lebih kurus, lebih lemah, suara yang ia milikipun sudah berubah. Dulu ia adalah om yang kocak, selalu memeriahkan suasana, a very bright person. Ia tidak memiliki kebiasaan yang mengganggu kesehatan (seperti begadang atau merokok) tapi kebiasaan yang saya tau adalah terlalu banyak berpikir, semua hal kecil mengganggunya dan membuatnya stress. saya pernah membaca jika terlalu banyak berfikir negatif dapat mengaktifkan sel-sel kanker dalam tubuh. I mean it will lead into your physical after all right? The stress will destroy your mind and then the body.

Terakhir kali saya menjenguk dia dirumah sakit kakinya sudah pucat dan memutih, dan saat itulah saya sadar mungkin waktunya sudah tak lama lagi, I don’t know, I just always think that death have a certain kind of pale.

Saat akhirnya diberitahu ia meninggal dunia dan saya harus pergi ke pemakamannya saya tidak bs melupakan ekspresi sedih dari om-om dan tante lain dan paling terutama dari Ibu saya sendiri, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya kehilangan seorang adik. Dan saya tidak mau membayangkannya.

Sepulang dari sana saya terdiam sendiri dikamar. I hate betrayed, I hate when people lies, I hate many things that but what I hate the most is when people die. 

Kesadaran

Pernah ada yang bilang selain uang dan teman, kesadaran adalah rejeki.
Beberapa hari ini alam sadarku diberi rejeki, kesadaran yang baru.
Mungkin pertama-tama ia perlu dikuliti untuk dikupas batasnya,
Sakit memang,
Tapi akan perlu dibuka layernya, untuk ditutup oleh layer yang baru.
Batas yang baru.
Yang bisa saja meluaskan dimensimu. Memutus batas layer sebelumnya.
Pertama-tama kau akan mengeluh kesakitan, mengutuk mengapa sadarmu dikuliti,
Kemudian kau akan termangu bersyukur, karena diatas itu, ada rejeki besar yang Tuhan beri padamu, kesadaran. Dan kau tak akan minta untuk apapun lagi.
Kau tak akan meminta kepada orang lain.
Kau tak akan mencari.
Karena ia sudah ada disitu, dan selalu ada disitu, kesadaran.

Selamat Tahun Baru

Selamat Tahun Baru…

Setelah malam yang lumayan bermakna dan agak menyenangkan, saya duduk ditepi jendela yang pemandangannya mengarah ke pemandangan gedung, rumah-rumah, gereja megah. Dan langit-langit biru. Tidak terlalu biru sih cenderung kelabu. Dan jendela tempat saya mengintip hanyalah jendela kotak biasa. Hanya 1 frame yang sederhana. Namun hampa, dan sepi. Bahwa semegah-megah apapun kota. Atau semegah-semegahnya bangunan yang dibangun oleh manusia langit hanya tetap berdiri kosong diatasnya… Tidak angkuh, bukannya tidak perduli. Tapi… Sepertinya langit tak memiliki keinginan untuk berbuat apapun dengan apa yang dibawahnya. Dia hanya diam disana. Still. Dan tak ada campur tangan apapun atas semua yang manusia coba harapkan atau manusia coba sampaikan. Rumah-rumah. Gedung-gedung. Rumah ibadah. Berbagai ilham telah dibentuk namun langit seakan tak perduli, semesta tak perduli. Dia hanya diam. Seakan-akan tak punya kepentingan. Seakan-akan acuh tak acuh. Sama seperti takdir, sama seperti nasib, sama seperti hidup. Bukan karena itu tak adil, tapi karena itu acuh tak acuh.

Mungkin kita memberi makna yang berbeda-beda ketika melihat langit. Tapi langit yang kupandang dari jendela kotak itu amatlah dingin. Begitu kosong. Tak ada Zeus ataupun Hera yang akan memekik dan berteriak marah ketika aku atau kalian berbuat salah. 

Diam-diam saya merasa sedih. Diam-diam saya merasa sepi. Dan sendiri. Betapa sunyinya hidup. Betapa kecilnya kita. Betapa dunia dan langit diatas sana menyelesaikan urusannya sendiri. Dan seakan tak akan pernah mengacuhkan harapan-harapan kita. Bahkan ia tak berfikir, dia hanya hadir sebagai semesta, dan kebetulan saja kita dapat merasakannya. Dan mencoba-coba memberikan makna kepadanya. Tapi ia hanyalah langit dengan semestanya sendiri. 

Atau mungkin langit sebenarnya tlah banyak memberikan tanda-tanda namun kita kunjung kerap tak sadar-sadar jua? Sehingga ia hanya selalu hadir disitu lelah memberi sinyal, karena sebenarnya dirimu sama tak acuhnya seperti-nya?

Ataukah langit sebenarnya memang diam tanpa intervensi dan aku hanyalah pikiran manusia bodoh yang seperti milyaran manusia lainnya berusaha memberikan makna?

Setahun itu bukanlah waktu yang lama saat kita beranjak semakin berumur. Dan hidup hanyalah pandangan dari frame ke frame saja. Sungguh tak bermakna. Sungguh kosong. Sungguh hampa. Dan semakin sulit untuk menentukan hidup mana yang lebih bijaksana, manusia atau sebutir batu?

Jadi ini yah hanya catatan biasa saja. Maaf tidak ada yang menarik saya hanya tinggal di kota kecil yang berotasi lamban. Tapi paling tidak berada dikepala saya sendiri saya jarang merasa kesepian. Karna walaupun langit tak memberikan tanggapan, tapi kepala saya selalu ramai…

Akan hal-hal sedih! Haha…

Saya tidak sesedih ini aslinya percayalah…

Selamat Tahun Baru…  

 

Ketika saya melihat-lihat album foto yang lama aku berkata: lihatlah. Kayaknya saya bahagia disaat itu.Tapi bukankah kita memang selalu memotret diri kita saat kita bahagia?

Kan tdk mungkin jg saat kita menangis suram kita memotret diri. 

Tapi hey, saya ingin menghitung hidup ini dengan momen-momen tersebut. Momen-momen bahagia itu. Saya tidak ingin saat tua nanti, di ranjang saya lalu baru berfikir: hey. I had a very good life, I should worry less…

Kue Bolu

Aku selalu termenung apabila melihat potongan kue bolu besar yang terbuat dari telur, susu, dan tepung itu apabila termasuk didalam kue kotak pembagian. Yang pertama kupikirkan adalah. A. Aku tidak suka kue itu. B. Potongannya terlalu besar. C. Rasanya monoton. D. Siapa yang akan membuang-buang waktu membuatnya agar tidak aku makan?

Ini yang sering aku pikirkan ketika pikiranku berkelana. Berkelana saat tidak mendengar seminar atau semacamnya. Memikirkan darimana datangnya hal-hal kecil ini, hal yang aku ingin tahu asal-muasalnya. Seperti misalnya. Anak-anak yang bergoncengan dengan anak-anak lain yang masih sekolah tapi sudah mengebut-ngebut dijalan. Atau siapakah yang mengemas dvd-dvd bajakan. Aku selalu bertanya darimana mereka? Siapa mereka? Keluar dari lubang mana mereka? (Terutama anak-anak begajulan yang naik motor) apa yang mereka pikirkan ketika mengemas plastik dvd-dvd bajakan ini? Siapa yang mengemas kue-kue ini kedalam kotak? Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka bekerja sampai larut malam? Apa mereka keletihan? Siapa mereka? Siapa anak mereka? Apakah mereka menjual kue karena tuntutan ekonomi? Karena suami mereka gajinya tidak cukup? Apa mereka sering menangis dimalam hari? Apa mereka mempunyai banyak masalah? Apa ada penyesalan? Atau malah banyak tawa?

Pikiran-pikiran ini terbang dan berkenala ketika melihat apapun yang datang dari antah-berantah termasuk seonggok kue dengan irisannya terlalu besar untuk kumakan. Biasanya kue itu selalu kubiarkan tercogok menyedihkan didalam kotaknya.

Suatu hari saat aku pulang kerumah aku mendapati ibuku yang mengomel karena tidak bisa menghidupkan oven gas. Ia mengomel karena ayahku satu-satunya yang bisa menghidupkannya tidak kunjung pulang dari pekerjaannya padahal ini sudah magrib. Aku bertanya kepadanya memangnya kue itu harus segera dimasak? Ibuku menjawab tentu saja karena kue itu besok akan di bagikan sebagai kue kotak wisudawan.

Kue itu sama seperti kue yang aku jelaskan diatas. Cetakan dengan bolong ditengah. Ketika mengembang dapat dipotong-potong menjadi banyak kue manis dengan tekstur yang membosankan. Yang akan terkikis apabila tersenggol. Salah satu kue dalam kotak yang akan dimakan oleh para wisudawan.

Setelah itu aku pergi dan saat aku pulang Ibuku masih saja membuat kue itu. Mau tak mau dia kubantu. Ini sudah larut malam. Ayahku selalu marah apabila ibuku memaksakan hal-hal semacam ini, tapi memasak dan bikin kue adalah hobinya. Walaupun gara-gara itu ia jadi tak nafsu makan.

Saat besok kalian membuka kotak kue tersebut dan bertanya-tanya, ketahuilah kue itu asal-muasalnya dari ibuku. Ia membuatnya hingga malam hari. Itu berasal dari suaminya yang marah-marah. Dan berasal dari rumah asri yang dapurnya seperti rumahmu juga. Berasal dari waktu luangnya dan dari adik-adikku yang marah-marah kenapa hari itu ia tidak masak. Dari sukacita menyumbangkan kuenya untuk dimakan.

Saat kau dan aku membuka kotak kue dan menemukan kue bolu membosankan itu dan berpikir dari mana asal-muasalnya ingatlah ia terbuat dari banyak juga tawa.

Dan mulai sejak itu aku memakannya. Dan yang lebih penting pertanyaan-pertanyaan itu terjawab.

Karena Hidup Demikian Adanya

linimasa

Ketika akan membuka usaha warteg maka berpeganglah pada kata kunci: lokasi, lokasi dan lokasi.

Ketika kamu dipuji maka cukup katakan pada mereka terimakasih, terimakasih dan terimakasih.

Bagaimana jika kamu seorang lelaki yang saling berkompetisi untuk mendapatkan hati puan jelita? nyaman, nyaman dan membuatnya selalu nyaman.

Ketika kamu begitu nyaman dan dihadapkan pada beberapa pilihan calon pasangan, maka pastikan pasanganmu itu napsuin, napsuin dan napsuin.

Ketika kamu ingin menjadi penulis maka pastikan senantiasa untuk rajin membaca, membaca dan membaca.

Ketika semua berebut memberikan pendapatnya dalam media sosial pastikan anda buta huruf, buta huruf dan buta huruf. Lalu lakukan diet informasi. Pilihlah asupan informasi yang cukup gizi.





Ketika perlu dukungan tentang segala hal. APAPUN itu. Pastikan anda telah berkonsultasi dengan ibu, ibu dan ibu kandungmu (atau setidaknya yang kamu anggap dia ibumu).

Jika kamu ingin bahagia saat asyik-masyuk dengannya, pastikan diakhiri dengan di luar, di luar dan di luar.

Jika…

View original post 199 more words