Goodbye\\

Saya benci beberapa hal didunia ini. Terutama hal-hal yang menyakitkan. Ada banyak hal-hal yang menyakitkan di dunia ini seperi dikhianati, dibohongi, diabaikan, diperlakukan tidak adil, beberapa diantaranya sudah pernah saya rasakan, tapi rasa sakitnya masih dapat terabaikan, walaupun kadang tidak mudah. Namun ada 1 hal yang paling saya benci dan itu adalah ketika seseorang meninggal dunia. Rasa sakit kehilangan orang yang sebelumnya ada bersama-sama kita dan tidak lagi bersama kita terus ia pergi adalah rasa yang makin saya coba pahami hingga sekarang. Ya, saya tau begitulah dunia ini bekerja, hanya saja, sepertinya saya–dan seperti banyak manusia lainnya–masih sangat-sangat belum terbiasa. Padahal itu adalah hal yang sangat nyata. Siklus yang sangat simple. Tapi ntah kenapa kita masih sulit menerima ketika itu terjadi pada orang lain atau kita. Kematian & perasaan ditinggalkan.

Beberapa waktu yang lalu om saya meninggal dunia. Ia salah satu om yang saya yang terdekat yang berada di masa kecil saya. Dia sudah lama didiagnosa sakit, namun masih beraktivitas seperti biasa, hanya saja ia lebih kurus, lebih lemah, suara yang ia milikipun sudah berubah. Dulu ia adalah om yang kocak, selalu memeriahkan suasana, a very bright person. Ia tidak memiliki kebiasaan yang mengganggu kesehatan (seperti begadang atau merokok) tapi kebiasaan yang saya tau adalah terlalu banyak berpikir, semua hal kecil mengganggunya dan membuatnya stress. saya pernah membaca jika terlalu banyak berfikir negatif dapat mengaktifkan sel-sel kanker dalam tubuh. I mean it will lead into your physical after all right? The stress will destroy your mind and then the body.

Terakhir kali saya menjenguk dia dirumah sakit kakinya sudah pucat dan memutih, dan saat itulah saya sadar mungkin waktunya sudah tak lama lagi, I don’t know, I just always think that death have a certain kind of pale.

Saat akhirnya diberitahu ia meninggal dunia dan saya harus pergi ke pemakamannya saya tidak bs melupakan ekspresi sedih dari om-om dan tante lain dan paling terutama dari Ibu saya sendiri, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya kehilangan seorang adik. Dan saya tidak mau membayangkannya.

Sepulang dari sana saya terdiam sendiri dikamar. I hate betrayed, I hate when people lies, I hate many things that but what I hate the most is when people die. 

Kesadaran

Pernah ada yang bilang selain uang dan teman, kesadaran adalah rejeki.
Beberapa hari ini alam sadarku diberi rejeki, kesadaran yang baru.
Mungkin pertama-tama ia perlu dikuliti untuk dikupas batasnya,
Sakit memang,
Tapi akan perlu dibuka layernya, untuk ditutup oleh layer yang baru.
Batas yang baru.
Yang bisa saja meluaskan dimensimu. Memutus batas layer sebelumnya.
Pertama-tama kau akan mengeluh kesakitan, mengutuk mengapa sadarmu dikuliti,
Kemudian kau akan termangu bersyukur, karena diatas itu, ada rejeki besar yang Tuhan beri padamu, kesadaran. Dan kau tak akan minta untuk apapun lagi.
Kau tak akan meminta kepada orang lain.
Kau tak akan mencari.
Karena ia sudah ada disitu, dan selalu ada disitu, kesadaran.

Selamat Tahun Baru

Selamat Tahun Baru…

Setelah malam yang lumayan bermakna dan agak menyenangkan, saya duduk ditepi jendela yang pemandangannya mengarah ke pemandangan gedung, rumah-rumah, gereja megah. Dan langit-langit biru. Tidak terlalu biru sih cenderung kelabu. Dan jendela tempat saya mengintip hanyalah jendela kotak biasa. Hanya 1 frame yang sederhana. Namun hampa, dan sepi. Bahwa semegah-megah apapun kota. Atau semegah-semegahnya bangunan yang dibangun oleh manusia langit hanya tetap berdiri kosong diatasnya… Tidak angkuh, bukannya tidak perduli. Tapi… Sepertinya langit tak memiliki keinginan untuk berbuat apapun dengan apa yang dibawahnya. Dia hanya diam disana. Still. Dan tak ada campur tangan apapun atas semua yang manusia coba harapkan atau manusia coba sampaikan. Rumah-rumah. Gedung-gedung. Rumah ibadah. Berbagai ilham telah dibentuk namun langit seakan tak perduli, semesta tak perduli. Dia hanya diam. Seakan-akan tak punya kepentingan. Seakan-akan acuh tak acuh. Sama seperti takdir, sama seperti nasib, sama seperti hidup. Bukan karena itu tak adil, tapi karena itu acuh tak acuh.

Mungkin kita memberi makna yang berbeda-beda ketika melihat langit. Tapi langit yang kupandang dari jendela kotak itu amatlah dingin. Begitu kosong. Tak ada Zeus ataupun Hera yang akan memekik dan berteriak marah ketika aku atau kalian berbuat salah. 

Diam-diam saya merasa sedih. Diam-diam saya merasa sepi. Dan sendiri. Betapa sunyinya hidup. Betapa kecilnya kita. Betapa dunia dan langit diatas sana menyelesaikan urusannya sendiri. Dan seakan tak akan pernah mengacuhkan harapan-harapan kita. Bahkan ia tak berfikir, dia hanya hadir sebagai semesta, dan kebetulan saja kita dapat merasakannya. Dan mencoba-coba memberikan makna kepadanya. Tapi ia hanyalah langit dengan semestanya sendiri. 

Atau mungkin langit sebenarnya tlah banyak memberikan tanda-tanda namun kita kunjung kerap tak sadar-sadar jua? Sehingga ia hanya selalu hadir disitu lelah memberi sinyal, karena sebenarnya dirimu sama tak acuhnya seperti-nya?

Ataukah langit sebenarnya memang diam tanpa intervensi dan aku hanyalah pikiran manusia bodoh yang seperti milyaran manusia lainnya berusaha memberikan makna?

Setahun itu bukanlah waktu yang lama saat kita beranjak semakin berumur. Dan hidup hanyalah pandangan dari frame ke frame saja. Sungguh tak bermakna. Sungguh kosong. Sungguh hampa. Dan semakin sulit untuk menentukan hidup mana yang lebih bijaksana, manusia atau sebutir batu?

Jadi ini yah hanya catatan biasa saja. Maaf tidak ada yang menarik saya hanya tinggal di kota kecil yang berotasi lamban. Tapi paling tidak berada dikepala saya sendiri saya jarang merasa kesepian. Karna walaupun langit tak memberikan tanggapan, tapi kepala saya selalu ramai…

Akan hal-hal sedih! Haha…

Saya tidak sesedih ini aslinya percayalah…

Selamat Tahun Baru…  

 

Ketika saya melihat-lihat album foto yang lama aku berkata: lihatlah. Kayaknya saya bahagia disaat itu.Tapi bukankah kita memang selalu memotret diri kita saat kita bahagia?

Kan tdk mungkin jg saat kita menangis suram kita memotret diri. 

Tapi hey, saya ingin menghitung hidup ini dengan momen-momen tersebut. Momen-momen bahagia itu. Saya tidak ingin saat tua nanti, di ranjang saya lalu baru berfikir: hey. I had a very good life, I should worry less…

Kue Bolu

Aku selalu termenung apabila melihat potongan kue bolu besar yang terbuat dari telur, susu, dan tepung itu apabila termasuk didalam kue kotak pembagian. Yang pertama kupikirkan adalah. A. Aku tidak suka kue itu. B. Potongannya terlalu besar. C. Rasanya monoton. D. Siapa yang akan membuang-buang waktu membuatnya agar tidak aku makan?

Ini yang sering aku pikirkan ketika pikiranku berkelana. Berkelana saat tidak mendengar seminar atau semacamnya. Memikirkan darimana datangnya hal-hal kecil ini, hal yang aku ingin tahu asal-muasalnya. Seperti misalnya. Anak-anak yang bergoncengan dengan anak-anak lain yang masih sekolah tapi sudah mengebut-ngebut dijalan. Atau siapakah yang mengemas dvd-dvd bajakan. Aku selalu bertanya darimana mereka? Siapa mereka? Keluar dari lubang mana mereka? (Terutama anak-anak begajulan yang naik motor) apa yang mereka pikirkan ketika mengemas plastik dvd-dvd bajakan ini? Siapa yang mengemas kue-kue ini kedalam kotak? Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka bekerja sampai larut malam? Apa mereka keletihan? Siapa mereka? Siapa anak mereka? Apakah mereka menjual kue karena tuntutan ekonomi? Karena suami mereka gajinya tidak cukup? Apa mereka sering menangis dimalam hari? Apa mereka mempunyai banyak masalah? Apa ada penyesalan? Atau malah banyak tawa?

Pikiran-pikiran ini terbang dan berkenala ketika melihat apapun yang datang dari antah-berantah termasuk seonggok kue dengan irisannya terlalu besar untuk kumakan. Biasanya kue itu selalu kubiarkan tercogok menyedihkan didalam kotaknya.

Suatu hari saat aku pulang kerumah aku mendapati ibuku yang mengomel karena tidak bisa menghidupkan oven gas. Ia mengomel karena ayahku satu-satunya yang bisa menghidupkannya tidak kunjung pulang dari pekerjaannya padahal ini sudah magrib. Aku bertanya kepadanya memangnya kue itu harus segera dimasak? Ibuku menjawab tentu saja karena kue itu besok akan di bagikan sebagai kue kotak wisudawan.

Kue itu sama seperti kue yang aku jelaskan diatas. Cetakan dengan bolong ditengah. Ketika mengembang dapat dipotong-potong menjadi banyak kue manis dengan tekstur yang membosankan. Yang akan terkikis apabila tersenggol. Salah satu kue dalam kotak yang akan dimakan oleh para wisudawan.

Setelah itu aku pergi dan saat aku pulang Ibuku masih saja membuat kue itu. Mau tak mau dia kubantu. Ini sudah larut malam. Ayahku selalu marah apabila ibuku memaksakan hal-hal semacam ini, tapi memasak dan bikin kue adalah hobinya. Walaupun gara-gara itu ia jadi tak nafsu makan.

Saat besok kalian membuka kotak kue tersebut dan bertanya-tanya, ketahuilah kue itu asal-muasalnya dari ibuku. Ia membuatnya hingga malam hari. Itu berasal dari suaminya yang marah-marah. Dan berasal dari rumah asri yang dapurnya seperti rumahmu juga. Berasal dari waktu luangnya dan dari adik-adikku yang marah-marah kenapa hari itu ia tidak masak. Dari sukacita menyumbangkan kuenya untuk dimakan.

Saat kau dan aku membuka kotak kue dan menemukan kue bolu membosankan itu dan berpikir dari mana asal-muasalnya ingatlah ia terbuat dari banyak juga tawa.

Dan mulai sejak itu aku memakannya. Dan yang lebih penting pertanyaan-pertanyaan itu terjawab.

Karena Hidup Demikian Adanya

LINIMASA

Ketika akan membuka usaha warteg maka berpeganglah pada kata kunci: lokasi, lokasi dan lokasi.

Ketika kamu dipuji maka cukup katakan pada mereka terimakasih, terimakasih dan terimakasih.

Bagaimana jika kamu seorang lelaki yang saling berkompetisi untuk mendapatkan hati puan jelita? nyaman, nyaman dan membuatnya selalu nyaman.

Ketika kamu begitu nyaman dan dihadapkan pada beberapa pilihan calon pasangan, maka pastikan pasanganmu itu napsuin, napsuin dan napsuin.

Ketika kamu ingin menjadi penulis maka pastikan senantiasa untuk rajin membaca, membaca dan membaca.

Ketika semua berebut memberikan pendapatnya dalam media sosial pastikan anda buta huruf, buta huruf dan buta huruf. Lalu lakukan diet informasi. Pilihlah asupan informasi yang cukup gizi.





Ketika perlu dukungan tentang segala hal. APAPUN itu. Pastikan anda telah berkonsultasi dengan ibu, ibu dan ibu kandungmu (atau setidaknya yang kamu anggap dia ibumu).

Jika kamu ingin bahagia saat asyik-masyuk dengannya, pastikan diakhiri dengan di luar, di luar dan di luar.

Jika…

View original post 199 more words

Not So Fine

Berapa hari ini saya mimpi buruk yg terburuk yang bisa dimimpikan, tadi pagi bangun sambil meringis jd takut tidur. Trauma. Atau mungkin saya menyalahkan hormon saja, karena kalo pms pikiran saya benar-benar kaya benang kusut. Maksudnya, pikiran saya tanpas pms saja sudah kusut, apalagi dengan campur tangan hormon. Gila. Hampir kayak orang bipolar gitulah. Yah hampir kaya Marshanda gitulah yg 5 menit pertama nyanyi-nyanyi sambil joget-joget trus 5 menit berikutnya nangis-nangis sambil bilang “Goddd why meee goodd why meee…! Give me a icecream and baksooo… And all the spicy foodd… And I love youu but noo I hate you leets go shoppingg…” Oke itu bukan Marshanda sih.

Anyway Mimpi kemarin yang bisa saya ingat adalah mimpi yg bersetting seperti difilm-film horror indonesia. (takuutt…) Tapi beneran kalo mimpi saya suka kayak bersetting & berjalan cerita gitu. Jadi ceritanya saya adalah nanny (tukang ngasuh anak kecil…) gak tau kenapa bisa begini tau-tau saya lagi sama-sama anak kecil. Tiba-tiba anak kecil yg saya asuh itu mati. Lupa matinya gara-gara apa pokoknya mati. Dan pikiran dan atmosfir didalam mimpi itu suram sekali dan saya amat merasa bersalah dan tiba-tiba saya sudah kembali disetting kedua dengan anak dari keluarga lain yang orangtuanya menganggap kalo kejadian buruk yang menimpa saya itu hanya kecelakaan semata. Dan terjadilah kejadian kedua tiba-tiba ntah bagaimana saya merasa saya dikutuk dan anak kecil yg saya asuh mati mendadak juga. Saya sedih bingung dan takut sekali. Saya ingin menyudahi kutukan dan mimpi ini dan saya tidak mau berada dekat dengan anak-anak lagi karena saya tau apapun itu seperti mengintai saya dan anak itu, seperti kutukan. Tapi ntah kenapa ada anak kecil yang tiba-tiba bermain didekat saya dan saya yang baru saja ngeri kenapa bisa begini tiba-tiba kaget karena tiba-tiba saja saya sudah ada disetting yang ketiga, jalanan, malam hari, saya sedang melihat anak itu diseberang jalan ingin menyebrang menyusul saya. Anak yang sudah setengah jalan itu tiba-tiba bergerak kembali mundur jalan kebelakang seperti direverse. Dan tertabrak mobil. Saya lalu kemudian berlari dan berteriak. Menangis. Dan orangtua anak itu menggendong anak itu kedepan saya tanpa berkata apa-apa dan ntah kenapa saya dengan emosi yang sudah berubah–tidak merasakan kesedihan lagi–dengan dingin menjawab: “apa yang sudah ditakdirkan diambil oleh Tuhan tidak bisa dikendalikan oleh manusia.” I mean, what the fuck. Gimana mungkin saya tiba-tiba ngomong kalimat seperti itu. Dan sayapun tak lama terbangun. Dgn perasaan tdk enak…

Kemarin saya mimpi lagi. Dengan mimpi yang sama sekali tidak ingin saya ceritakan lagi saking sedihnya dan membuat saya ingin bertanya: unconsciouness… ini apa-apaan. Karna disitu mimpinya sangat nyata sekali gaessss… Dan saya terbangun dipagi hari dengan terisak-isak. Dan *bersyukur* itu cumpa mimpi.

Ntahlah. Apa yang ingin semesta dan alam bawah sadar ini ingin katakan. Yang saya tau ini adalah bintik kecil pikiran bawah sadar gelap yang suram. Seperti goa. Pikiran ini berwarna-warni tapi ada satu goa. Ingin mengambil alih. Seperti alien kecil. Dan auranya sedang menguar. Atau itu hanyalah bunga tidur dari akumulasi-akumulasi pikiran yang yahh not so fine. Maybe. Or maybe I’m just in my post-menstrual-syndrom. Yeahhh…

Tapi aku takut boboooo… Makanya baca doa!! Udaaah tauuuuuu…

Nite. Sweet dreams

Rayakan Hidupnya

Sudahlah kawan jangan lagi nestapa

Sedih sedu sedan

Karna ia mungkin sedang tertawa melihat kita 

Dan berkata: “aku tak apa-apa!”


Dan apabila sudah sampai detiknya

Tak satupun kita yg dapat mencegahnya

Tibalah janjinya, tunai semua tugasnya di didunia


Dan sudahlah kawan, jangan lagi tangisi perginya

Rayakan hidupnya

Rayakan hidupnya

Rayakan bahwa di 1 bumi yang luas ini dengan berjuta manusia ntah kenapa kita bisa mengenal dirinya

Rayakan ntah kenapa Tuhan menciptakan mahluk yang sedemikian lucu dan kita pernah tertawa disampingnya bahwa kita pernah saling membahagiakan

Rayakan Tuhan menciptakan mahluk yang sangat menyenangkan dan ntah mengapa menaruhnya hidup tepat ditengah-tengah kita

Rayakan


Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang menyenangkan

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang penuh tawa

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup penuh cinta

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang penuh kesenangan, warna-warni, sanjung puji

Karena 1 kepergian takkan menghapus hidup yang berharga, hidup yang bahagia

Karena 1 kepergian takkan berlalu sia-sia, akan menjadi pengingat dan kompas dihati kita semua

Dan karena

ia pergi setelah tertawa bahagia. Dan tepat dipangkuan Ibunda.

Rayakan hidupnya

Rayakan hidupnya


Untuk teman

Rachmat Sutyo (Tyo Rachmat)

 7 Oktober 1985-13 Maret 2015



sudah 4 hari rumah saya sepi.
cuma saya dan abang saya dirumah. orangtua saya dan kedua adik saya pergi berlibur keluar kota.
dan sebenarnya hampir tidak pernah saya ditinggalkan berdua dirumah seperti ini.
sebelum-sebelumnya selalu ada yang menemani atau membantu dirumah, membantu menjaga rumah atau melakukan pekerjaan rumah tangga.

terakhir ditinggalkan seperti ini saat saya dan abang saya SMP.
dan rasanya seperti neraka.

dulu saya hanyalah anak smp lugu. dan abang saya adalah anak smp yang beringas. emosinya amat labil dan sulit untuk saya baca.
setiap hari kami diantar-jemput oleh tetangga. kadang abang saya memutuskan untuk naik sepeda.

tetangga saya ini baik sekali tetapi rasanya aneh saja kalau pagi-pagi saya diantar oleh tetangga dan dijemput oleh tetangga. saya harus bertatapan berkali-kali dengan tetangga sebelah rumah saya. aneh sekali.

pernah juga suatu hari dikamar saat kesepian tiba-tiba saya mencium bau hangus, saya berlari ke dapur, asap hitam membumbung tinggi di langit-langit dapur. saya buru-buru mematikan kompor, dan meredam asap.

dengan keadaan psikologis saya yang belum siap ditinggal orangtua, saya merasa terasing ditambah harus menghadapi ketidak becusan dalam mengelola dapur. sangat menyakitkan.

itulah sekilas memori  traumatik masa lalu saya tentang ditinggal orangtua ketika mereka pergi keluarkota.
dan kali ini hal itu terulang lagi.
tentu saja ceritanya tidak semuram waktu saya kecil. walaupun masih sedikit muram. tentu saja sekarang saya sudah bisa memasak, menanak nasi, pergi kemana saja tanpa diantar tetangga saya, dan menjaga rumah dengan baik.
akan tetapi tetap saja beberapa hal membuat saya kewalahan. dan akhirnya saya mengerti betapa beratnya pekerjaan mama saya kalo dirumah.
setiap pagi mama saya harus belanja, memasak, membereskan rumah, mencuci piring. dan dia melakukanny hampir seumur hidupnya. setiap hari.
dan kadang hati saya pedih kalo mama saya harus dikritik soal masakannya yang mungkin kurang karena mungkin sudah terlanjur kewalahan mengerjakan pekerjaan lain.

terkadang kalo lagi sepi sendiri dirumah, saya suka iseng BBM mama saya.
“Ma, cepat pulang…”
“Jaga rumah ya dek, Mama mau ke Jungleland dulu…”
“Ye ma, have fun… senang-senang ya.”

MAMA, APAKAH INI YANG KAU INGINKAN.

saya menaruh BB, dan mulai berfikir akan memasak apa. sepertinya ilmu memasak saya sudah habis dipakai beberapa hari ini.

ilmu memasak saya seperti: telur dadar, telur mata sapi, telur orak arik, telur orak arik dengan bawang putih, telur dadar dengan sayur. indomie goreng. indomie rebus. indomie rebus dengan kornet. indomie goreng dengan telur. indomie goreng dengan telur setengah matang. indomie rebus dengan telur rebus. ayam goreng.
abang saya pun saya rasa (BUKAN SAYA RASA LAGI!!) pasti tidak senang akan menu yang seperti ini, dia terbiasa makan masakan mama yang kaya akan bumbu dan bercitra rasa rumah.

maka hari ini saya memutuskan untuk memasak:

TELUR BALADO.

bombastis. menu seperti ini biasanya ditemukan di warteg dan rumah makan padang dan kali ini saya akan memasaknya dirumah.
saya terharu ketika memasaknya.
tapi sebenarnya saya kewalahan.

saya baca diresep “telurnya setelah direbus lebik baik digoreng agar rasanya lebih gimanaaaaaa gitu.” (ini beneran tulisan resep di blog memasaknya…)
sayapun mengambil telur yang sudah direbus dari panci dan mengupasnya. sialnya, kuningnya terlihat setengah matang. tapi pikiran saya belum jelek, karna saya hidup dijaman “ketika sesuatu tidak bekerja kami membetulkannya bukan membuangnya.” (eaaaaaa…) begitu juga dengan telur ini, saya tidak akan membuangnya, saya akan menggorengnya.

setelah digoreng pasti telur ini akan baik-baik saja.
saya masukkan semua telur itu dan saya pun mencoba menggorengnya. tak lama saya memasukkan sambal giling dan bahan-bahan lainnya.
putih telur tergoreng dengan cantik dan meninggalkan semburat kecoklatan. (semburat…)
akan tetapi kuning telur yang belum masak meluber kemana-mana dan

dan…

ITU ADALAH TELUR REBUS TERJELEK YANG PERNAH SAYA LIHAT.

putihnya bulat tetapi yang kuning meluber-luber tergoreng.

mengerikan.

mengerikan.

INIKAH YANG MAMA MAU MA?

INIKAH YANG MAMA MAU MENCIPTAKAN MONSTER TELUR MUTAN GORENG SEPERTI INI?!

saya kemudian semakin kewalahan karna selain monster telur ini, kuahnya pun kekeringan.
damn menulis tentang ini membuat saya makin rindu keluarga.
sebentar lagi saya akan keluar untuk jalan-jalan sore saja.
terimakasih sudah menyimak. besok mereka akan pulang.
safe flight Mom…