sudah 4 hari rumah saya sepi.
cuma saya dan abang saya dirumah. orangtua saya dan kedua adik saya pergi berlibur keluar kota.
dan sebenarnya hampir tidak pernah saya ditinggalkan berdua dirumah seperti ini.
sebelum-sebelumnya selalu ada yang menemani atau membantu dirumah, membantu menjaga rumah atau melakukan pekerjaan rumah tangga.

terakhir ditinggalkan seperti ini saat saya dan abang saya SMP.
dan rasanya seperti neraka.

dulu saya hanyalah anak smp lugu. dan abang saya adalah anak smp yang beringas. emosinya amat labil dan sulit untuk saya baca.
setiap hari kami diantar-jemput oleh tetangga. kadang abang saya memutuskan untuk naik sepeda.

tetangga saya ini baik sekali tetapi rasanya aneh saja kalau pagi-pagi saya diantar oleh tetangga dan dijemput oleh tetangga. saya harus bertatapan berkali-kali dengan tetangga sebelah rumah saya. aneh sekali.

pernah juga suatu hari dikamar saat kesepian tiba-tiba saya mencium bau hangus, saya berlari ke dapur, asap hitam membumbung tinggi di langit-langit dapur. saya buru-buru mematikan kompor, dan meredam asap.

dengan keadaan psikologis saya yang belum siap ditinggal orangtua, saya merasa terasing ditambah harus menghadapi ketidak becusan dalam mengelola dapur. sangat menyakitkan.

itulah sekilas memori  traumatik masa lalu saya tentang ditinggal orangtua ketika mereka pergi keluarkota.
dan kali ini hal itu terulang lagi.
tentu saja ceritanya tidak semuram waktu saya kecil. walaupun masih sedikit muram. tentu saja sekarang saya sudah bisa memasak, menanak nasi, pergi kemana saja tanpa diantar tetangga saya, dan menjaga rumah dengan baik.
akan tetapi tetap saja beberapa hal membuat saya kewalahan. dan akhirnya saya mengerti betapa beratnya pekerjaan mama saya kalo dirumah.
setiap pagi mama saya harus belanja, memasak, membereskan rumah, mencuci piring. dan dia melakukanny hampir seumur hidupnya. setiap hari.
dan kadang hati saya pedih kalo mama saya harus dikritik soal masakannya yang mungkin kurang karena mungkin sudah terlanjur kewalahan mengerjakan pekerjaan lain.

terkadang kalo lagi sepi sendiri dirumah, saya suka iseng BBM mama saya.
“Ma, cepat pulang…”
“Jaga rumah ya dek, Mama mau ke Jungleland dulu…”
“Ye ma, have fun… senang-senang ya.”

MAMA, APAKAH INI YANG KAU INGINKAN.

saya menaruh BB, dan mulai berfikir akan memasak apa. sepertinya ilmu memasak saya sudah habis dipakai beberapa hari ini.

ilmu memasak saya seperti: telur dadar, telur mata sapi, telur orak arik, telur orak arik dengan bawang putih, telur dadar dengan sayur. indomie goreng. indomie rebus. indomie rebus dengan kornet. indomie goreng dengan telur. indomie goreng dengan telur setengah matang. indomie rebus dengan telur rebus. ayam goreng.
abang saya pun saya rasa (BUKAN SAYA RASA LAGI!!) pasti tidak senang akan menu yang seperti ini, dia terbiasa makan masakan mama yang kaya akan bumbu dan bercitra rasa rumah.

maka hari ini saya memutuskan untuk memasak:

TELUR BALADO.

bombastis. menu seperti ini biasanya ditemukan di warteg dan rumah makan padang dan kali ini saya akan memasaknya dirumah.
saya terharu ketika memasaknya.
tapi sebenarnya saya kewalahan.

saya baca diresep “telurnya setelah direbus lebik baik digoreng agar rasanya lebih gimanaaaaaa gitu.” (ini beneran tulisan resep di blog memasaknya…)
sayapun mengambil telur yang sudah direbus dari panci dan mengupasnya. sialnya, kuningnya terlihat setengah matang. tapi pikiran saya belum jelek, karna saya hidup dijaman “ketika sesuatu tidak bekerja kami membetulkannya bukan membuangnya.” (eaaaaaa…) begitu juga dengan telur ini, saya tidak akan membuangnya, saya akan menggorengnya.

setelah digoreng pasti telur ini akan baik-baik saja.
saya masukkan semua telur itu dan saya pun mencoba menggorengnya. tak lama saya memasukkan sambal giling dan bahan-bahan lainnya.
putih telur tergoreng dengan cantik dan meninggalkan semburat kecoklatan. (semburat…)
akan tetapi kuning telur yang belum masak meluber kemana-mana dan

dan…

ITU ADALAH TELUR REBUS TERJELEK YANG PERNAH SAYA LIHAT.

putihnya bulat tetapi yang kuning meluber-luber tergoreng.

mengerikan.

mengerikan.

INIKAH YANG MAMA MAU MA?

INIKAH YANG MAMA MAU MENCIPTAKAN MONSTER TELUR MUTAN GORENG SEPERTI INI?!

saya kemudian semakin kewalahan karna selain monster telur ini, kuahnya pun kekeringan.
damn menulis tentang ini membuat saya makin rindu keluarga.
sebentar lagi saya akan keluar untuk jalan-jalan sore saja.
terimakasih sudah menyimak. besok mereka akan pulang.
safe flight Mom…

 

Advertisements

Lantas Apa

Jika harimu hanyalah tanggal almanak yang berterbangan, lalu mengabur karna kau risih mematikan lampu tidur dikala malam,

dan rasanya pikiranmu tercerai berai

dan raungan temanmu yang berbicara membuat telingamu bising, kau meminta kepalamu dan telingamu berada ditempat lain, dan kau membenci dirimu sendiri yang seperti itu karna kau tau kau bukannya membenci mereka, melainkan kau sederhana hanya merasa seperti itu.

Apabila yang kau inginkan sebenarnya tidak terlalu kau inginkan, dan ia yang kau inginkan, setelah kau dapatkan tidak lagi kau inginkan. lantas kau bertanya kau bisa apa.

Apa pernah kau marah, dan ingin menangis saking kesalnya. dan bertanya pada dirimu lantas ia bisa apa?

Mungkin hanya berlalu ke gagang pintu. dan membiarkan sirna dengan sendirinya.

Saat kepalamu mencoba berlomba dengan waktu tapi kau tau tak perlu ada perlombaan disitu, karna yang kau punya hanya sekarang, lalu mencoba menyengir tolol dan bertanya kau bisa apa.

saat kau merasa hilang kontrol, dan yang kau rasakan hanya tertiup lesu pada angin, dan bertanya lantas apa.

Lantas apa.

Lantas apa.

Alasan Malas

“sebenarnya aku nih bodoh gak sih?”

“aku merasa bodoh… :(” 

“otak aku udah tumpul, kebanyakan kena angin malam…”

kadang saya ngerasa orang paling bodoh. ntah faktor gen atau bagaimana saya agak lamban berfikir cepat, alias slow speed, hahaa. krn setelah melihat adik bungsu saya yang perempuan yang juga agak lamban berfikir–tapi kreatif saya memang yakin itu turunan. yaaa agak-agak tipe stupid blonde gitulah, yang physically fine, tapi otak agak lemot. B-)

ahahha serius. kadang teman-teman dekat dulu mungkin saking terlalu sayangnya mereka suka ngingetin buat rajin kuliah. dan meyakinkan kalo aku tdk bodoh.

“sumpah, *insert nama saya disini* kau ndak bodoh!!” padahal saya tidak berkomentar atau bersuara apapun sebelumnya, bahkan bernapaspun tidak. saya kebetulan lagi makan roti dengan tenang dan damai. dan sekonyong-konyong teman perempuan saya ini berbicara seperti itu. apakah aura bodoh itu terpampang nyata dari wajah saya? xD

yang saya ingat waktu dia sekonyong-konyong berkata begitu adalah, besoknya saya ujian akhir semesteran. dan saya dengan santainya malah minta antar beli cemilan ke minimarket depan.

mungkin sebelumnya teman saya ini sudah berkali-kali mengingatkan untuk belajar, tapi otak saya udah otomatis nge-mute suruhan (hardikan) itu, jadi kayak gini:

teman saya: “oiii Tya kau belajar gih, besok ujian!! TYA COBA BUKA INSTAGRAM INI ONLINE SHOPNYA BAGUS BAGUS LHOH! DISKON!!”

saya: “MANAAAAA?”

atau seperti ini:

teman saya: “Tya, bagaimana menurut kau Ben Affleck yang pernah jadi mantan Jennifer Lopez, di E! ini… TYA BESOK KAU UJIAN NJINGG?! BELAJARR!”

saya: “Lahh itu bukannya hubungan itu udah lama, si Ben kan sekarang udah nikah sama Jennifer Garner sejak tahun 2005 dan sudah dikaruniai 2 orang anak… mereka akan hidup rukun bahagia selamanya…”

mungkin seperti itu kali ya kejadiannya. 

habisss ya gimana ya, waktu itu saya lagi malas-malasnya, ga punya motivasi, mau dipaksa kayak gimanapun kayaknya percuma. (lain dengan skrg, uas semester kemarin saya dapat 98 lho… sadisssssss… kenapa ga daridulu coba usahanya.)

jadi setelah saya dengan aman makan roti ini teman saya permisi pulang, lalu marah-marah: “aku kesal… besok tuh kau ujian, kok kau bs sesantai ini?!” saya dengan mulut nganga makan roti coba fokus dengan emosi teman saya yg ternyata semakin obvious.

“Tya, aku nih ndak pintar, aku nih cuma terbiasa melakukan sesuatu dengan maksimal, 100% effort!!”

lalu dia ngacir dengan motor bebek bergigi 4 nya. saya yang habis jajan langsung masuk rumah dan pengen mandi, udah sore.

tapi sebenarnya malam itu saya langsung kefikiran juga.

kemana larinya motivasi???

kemana larinya semangat bersekolah itu???

dari kecil perasaan diantara saudara-saudara lain akademik saya yang paling lumayan, tapi kenapa tambah tua kok ya kaciau.

but yeah.

sebenarnya nasehat seseorang itu ga ngaruh ke kita sampai kita sendiri mengerti dan memahami sendiri. jadi, sekarang saya tahu kalo “kamu tidak bisa menyuruh orang lain menjadi apa yang kamu inginkan, kamu hanya bisa memperlihatkan, sampai mereka mengerti dgn sendirinya.” —quotes ini benar.

di poin itu saya masih nganggep kalo kata-kata teman saya ini bullshit. buat apa? saya ga punya motivasi buat kuliah karna saya anggap it’s not my thing, saya belum sadar benefitsnya dimana, dan saya akan menjalaninya mengikuti arus aja.

tapi saya sekarang sadar kalo saya memang harus belajar, biar pendidikan dan waktu yang saya jalani itu gak jadi sia-sia. walaupun proses untuk sadar itu lumayan, tapikan saya memang bukan teman saya itu, yang dari SD belajar dari subuh disuruh belajar sama ibunya, otaknya encer banget, dan setiap tahun hingga SMA ranking pertama. dan saya ga perlu jadi orang itukan, saya hanya butuh menjadi diri saya sendiri, dan menjalani prosesnya. walaupun merugikan tapi paling tidak saya bisa belajar darisitu, and live my life with my own way.

back to topic,

sampe sekarang saya masih suka insecure jg dan bertanya dgn orang-orang terdekat saya, “Am I stupid?”

mereka dgn inisiatif baik yg ingin memotivasi saya langsung menjawab “gak ada orang yang terlahir bodoh, yang ada orang yang malas.”

malas? really? that word does not motivated me.

saya sering sekali mendengar perkataan itu waktu SMA, karna saya kebetulan berteman dengan berandal-berandal kelas. berandal kelas adalah teman curhat yang baik, jadi saya sering sengaja duduk semeja dengan mereka.

Ada guru-guru senior yang baik hati sering tiba-tiba ngomong dengan teman-teman saya ini yang sering tidur pada saat mata pelajaran mereka dgn blg: “ya ampun kamu ini yaaa, kamu tuh gak bodoh, cuma malas…!” dan teman saya yang dicap ‘malas’ pun cuma senyum-senyum malu karna ketahuan tidur dan besoknya langsung tidur lagi. karena mereka toh merasa terlabeli. malas, dan bodoh.

bagaimana kalo saya bilang, “gak ada orang yang terlahir didunia sebagai orang bodoh, yang ada hanya orang gak yakin sama dirinya dan tidak memaknai bahwa hidup yang dijalaninya itu berharga dan sangat pantas untuk dijalani…”

dibalik sikap malas pasti ada alasan, teman saya yang hobi tidur itu pasti yakin kalo SMA pada saat itu gak memberi dia wadah yang dia perlukan (dia saat itu bassis beken), dia ga yakin sama dirinya sendiri karna sudah dilabeli cap malas, jadi mungkin menurutnya buat apa rajin sekolah? buat apa belajar? toh saya ga akan pernah CUKUP baik disini. 

kira-kira begitulah kalo di kepala berandal SMA.

kalo sekarang. apakah alasan malas? apakah karna saya kurang memaknai hidup? kurang mengerti jika hidup yang dijalani ini berharga, dan sangat amat pantas dijalani dengan semangat penuh suka cita dan semestinya dirayakan?

apakah alasan malas-malasan tidak bangun pagi besok?
no hope?

next time kalo ada orang yang nanya “bro, saya bodoh gak sih?” tolong kasihtau, “kau itu gak bodoh, tapi tolong periksa lagi motifmu nak… xD”

ah udah ah ngantuk. ngalur ngidul

semoga siapapun termotivasi sama tulisan ini yang sebenarnya lagi memotivasi diri sendiri. :))

“…I give you …

“…I give you the mausoleum of all hope and desire…I give it to you not that you may remember time, but that you might forget it now and then for a moment and not spend all of your breath trying to conquer it. Because no battle is ever won he said. They are not even fought. The field only reveals to man his own folly and despair, and victory is an illusion of philosophers and fools.” ― William Faulkner, The Sound and the Fury

tell this quotes when you give your beloved person a watch as a gift. hehe. 🙂

WIN

There’s no “win” in life. No immortality happiness. There’s no ending, there’s no certainty in life, the only certainty in life is in the end you’ll die.

You can’t win in life, you can run in the end of the world whenever you get all you want and scream: “I WIIIN!” And the happiness & bliss will yours for the rest of your life. You can’t.
In life you just learn, learn, and learn & enjoy what you’re doing. That’s called win, in life.
You just take what life gaves you in the first place; the life itself.

In life, what you do is do life, there’s no stopping spot, like you end here, done here. You just keep on moving, you reach happiness, and another happiness, another freedom, in between you’re gonna feel an unpleasant things too, not because it is bad, but it because you should feel it. You should feel everything. Not because life punish you, but just because you should know how it taste.

So why are you so sad now young lady?

Singkat

istirahatlah apabila waktu terasa lambat

berilah sedikit ratapan rapat pada penat

dan keinginan-keinginan semu yang mulai menghambat

apabila itu diperlukan

 

dapat pula kita buang saja,

dan jangan pula diingat-ingat

karena semua yang telah lewat, adalah pertanda kau telah lepas bebat

 

dan mundurlah bila ingat,

ingat kalo mundur itu perlu,

untuk lompat kembali dan kau melangkah cepat

 

karena kamarmu tak mampu lagi menopang luapan ratap

dan mekaran bakat yang kau campur pekat dengan dengus kasmaran hebat

 

dan saat siang, pergilah ke hujung tebing dan melompat singkat

hanya itu saja yang kupinta agar duniamu tak berkarat

Are You Okay?

A: “I’m like, I’m just giving up with my mind.
I’m not okay right now, I’m really not okay, I know it, because I can’t go to sleep, and I don’t feel sleepy at all.
The only thing that make me feel ok right now is the fact that I actually know that I’m not okay, this tiny fact excite me a little because most of times I don’t really don’t know the differences.
Well usually, even when I’m not feel okay, I convince myself that I’m totally okay, and ‘not okay’ feeling it’s just A FEELING, like Dalai Lama said. If it’s only A feeling, that means it’s only color, and if it’s only a color that means you don’t have to sweat a tear of it.
But the fact is: I don’t know what I’m feeling, I can’t feel. Or maybe I can, but I’m on my denial through it.
I deny my feeling from a nonsense. A nonsense that I believes make me totally not okay and become a crap. Because I don’t want to be somebody that always brag about okay or not okay feeling, OKAY?

But because I’m trying to be okay too hard, it become totally not okay for me.
Maybe I just have to tell myself it’s okay not to be okay, and take a break, lie down, figure it out… And sleep. Right?”

early twenty

ada yang bilang usia yang paling drama adalah saat early twenty.
apalagi di bidang percintaan. ingat ga rasanya pacaran waktu umur 19-20?
everything just so… fakdap. sinetron, opera sabun, tangis lebay diselingi hujan kalau perlu. ambek-ambekan dan sebagainya.
intinya berdarah-darah. hahaha…
mungkin karna masa peralihan dari umur belasan menjadi twenty ya.
waktu kita remaja, full of playground love, namun kemudian kita tumbuh, dan harus mendapat berbagai ujian-ujian untuk memasuki usia yang menuju ke dewasa.
orang dewasa siiih ga boleh drama-drama lagi!
apalagi kalo berkeluarga, harus mateng emotionally, ya gaaa?

jika anda merasa (eh ini saya sih), drama, dan bagai didalam badai, banyak rintangan, jangan takut apalagi khawatir, itu sekedar ujian untuk ke umur twenty something nanti yang matang. dan mapan.
pribadi yang matang dan mapan. cakep!
I don’t know… 25? 26? sampai kapan jadi mahluk matang dan bebas drama?
well, that’s our decision to make, right?