Minyak Angin

I have a secret. Saya punya rahasia. Rahasia saya adalah. Jeng. Jeng. Saya menyukai minyak angin. Iya iya katakan!! AKU HINAAA… AKU HINAAA…

Saya menyukai minyak angin, balsem, capujut oil (minyak kayu putih kalee…), apapun itu yang berbentuk inhaler.

Saya tidak pernah memakainya… 😦 karena saat saya memakainya teman-teman banyak yang berkomentar miring soal ini, mereka bilang saya seperti nenek-neneklah, kayak bau bis, apalah… Mereka jahaaat…

Pernah juga waktu di bis, saya mengeluarkan balsem bapak saya yang sangat pedas, lalu ada mbak-mbak didepan saya mual-mual sambil pindah haluan kejendela.

MBAK, AKU KECEWA.

Aku kecewa mengapa dunia tidak menerima minyak angin dan balsem seperti apa adanya ia. Mereka inikan melegakan…

Saat saya ke Jakarta saya bertemu dengan istri teman saya dan dia orang Filipina yang memakai minyak angin dan memakainya dimana saja bahkan di tempat HYPE. HYPE YOU KNOW HYPE. LIKE BAR. BEER BAR THAT FULL OF HYPE PEOPLE.

Saya terdiam saja melihatnya. Saya bergeming dan terpesona. Dia bisa menghirup itu kapan saja dan saya tidak. 

Akhinya saya menyueki minuman dan makanan disekitar kami dan malah mengambil botol kecil nan imut itu.”Can I get it? I like it too…”

“Ya…’ she said. Dan kami menikmati minyak angin itu bersama-sama.

“Nenek-nenek dia nih…” kata suaminya. Saya cuma diam dan mengacuhkannya. Ya, dia bukan bagian dari kami, dia hanya bagian dari orang-orang menganggap minyak angin aneh.

Dan kami berdua kembali berbincang tentang minyak angin.

Sekarang saya tak akan malu mengakui, jika saya adalah seorang NENEK-NENEK dan menyukai berbagai macam jenis INHALER.

Barusan saya mengeluarkan minyak angin yang bukan dari Filipine tapi merek lokal di taxi. Dan supir taxi yang sudah berumur didepan saya malah seperti mengeluarkan angin seperti orang yang bersendawa.

Sedih… 😦

TAPI AKU TAKKAN MENYERAH. MINYAK ANGIN AND INHALER IS FOR AN OLD SOUL. AND I AM OLD SOUL.

FEED OLD SOUL WITH MINYAK ANGIN.

Kesadaran

Pernah ada yang bilang selain uang dan teman, kesadaran adalah rejeki.
Beberapa hari ini alam sadarku diberi rejeki, kesadaran yang baru.
Mungkin pertama-tama ia perlu dikuliti untuk dikupas batasnya,
Sakit memang,
Tapi akan perlu dibuka layernya, untuk ditutup oleh layer yang baru.
Batas yang baru.
Yang bisa saja meluaskan dimensimu. Memutus batas layer sebelumnya.
Pertama-tama kau akan mengeluh kesakitan, mengutuk mengapa sadarmu dikuliti,
Kemudian kau akan termangu bersyukur, karena diatas itu, ada rejeki besar yang Tuhan beri padamu, kesadaran. Dan kau tak akan minta untuk apapun lagi.
Kau tak akan meminta kepada orang lain.
Kau tak akan mencari.
Karena ia sudah ada disitu, dan selalu ada disitu, kesadaran.

Beberapa hari yang lalu saya ditelpon teman baik sekedar untuk berbincang-bincang. Kemudian ditengah-tengah ia memberitahu kalo ada seorang kenalan yang bertanya apa occupation saya sekarang. Haha. Well. Teman saya berkata, “Jadi die tu nanya, Tya sekarang dimane dan jadi ape, kok rambutnye pirang?” Kata jadi disini harus digarismiring just because I find it odds dan dia menanyakan hal itu berulang-ulang. First of all, I don’t bleach my hair blonde in purpose. Ini warna bleaching yang tinggal (kuning-keputihan) awalnya ini warnanya abu-abu, gray! Gray! (Masa kini! Edgy woi! Edgy! 😁) warna abu seperti ini hanya akan bertahan seminggu dibanding warna lain. You just saw the bleach one and I feel sorry for you to judge someone life based on her hair color. Saya cuma terlalu malas untuk ke salon dan mengecat ulang, and somehow I love how the color brighten up my face. That’s it.

Selamat Tahun Baru

Selamat Tahun Baru…

Setelah malam yang lumayan bermakna dan agak menyenangkan, saya duduk ditepi jendela yang pemandangannya mengarah ke pemandangan gedung, rumah-rumah, gereja megah. Dan langit-langit biru. Tidak terlalu biru sih cenderung kelabu. Dan jendela tempat saya mengintip hanyalah jendela kotak biasa. Hanya 1 frame yang sederhana. Namun hampa, dan sepi. Bahwa semegah-megah apapun kota. Atau semegah-semegahnya bangunan yang dibangun oleh manusia langit hanya tetap berdiri kosong diatasnya… Tidak angkuh, bukannya tidak perduli. Tapi… Sepertinya langit tak memiliki keinginan untuk berbuat apapun dengan apa yang dibawahnya. Dia hanya diam disana. Still. Dan tak ada campur tangan apapun atas semua yang manusia coba harapkan atau manusia coba sampaikan. Rumah-rumah. Gedung-gedung. Rumah ibadah. Berbagai ilham telah dibentuk namun langit seakan tak perduli, semesta tak perduli. Dia hanya diam. Seakan-akan tak punya kepentingan. Seakan-akan acuh tak acuh. Sama seperti takdir, sama seperti nasib, sama seperti hidup. Bukan karena itu tak adil, tapi karena itu acuh tak acuh.

Mungkin kita memberi makna yang berbeda-beda ketika melihat langit. Tapi langit yang kupandang dari jendela kotak itu amatlah dingin. Begitu kosong. Tak ada Zeus ataupun Hera yang akan memekik dan berteriak marah ketika aku atau kalian berbuat salah. 

Diam-diam saya merasa sedih. Diam-diam saya merasa sepi. Dan sendiri. Betapa sunyinya hidup. Betapa kecilnya kita. Betapa dunia dan langit diatas sana menyelesaikan urusannya sendiri. Dan seakan tak akan pernah mengacuhkan harapan-harapan kita. Bahkan ia tak berfikir, dia hanya hadir sebagai semesta, dan kebetulan saja kita dapat merasakannya. Dan mencoba-coba memberikan makna kepadanya. Tapi ia hanyalah langit dengan semestanya sendiri. 

Atau mungkin langit sebenarnya tlah banyak memberikan tanda-tanda namun kita kunjung kerap tak sadar-sadar jua? Sehingga ia hanya selalu hadir disitu lelah memberi sinyal, karena sebenarnya dirimu sama tak acuhnya seperti-nya?

Ataukah langit sebenarnya memang diam tanpa intervensi dan aku hanyalah pikiran manusia bodoh yang seperti milyaran manusia lainnya berusaha memberikan makna?

Setahun itu bukanlah waktu yang lama saat kita beranjak semakin berumur. Dan hidup hanyalah pandangan dari frame ke frame saja. Sungguh tak bermakna. Sungguh kosong. Sungguh hampa. Dan semakin sulit untuk menentukan hidup mana yang lebih bijaksana, manusia atau sebutir batu?

Jadi ini yah hanya catatan biasa saja. Maaf tidak ada yang menarik saya hanya tinggal di kota kecil yang berotasi lamban. Tapi paling tidak berada dikepala saya sendiri saya jarang merasa kesepian. Karna walaupun langit tak memberikan tanggapan, tapi kepala saya selalu ramai…

Akan hal-hal sedih! Haha…

Saya tidak sesedih ini aslinya percayalah…

Selamat Tahun Baru…  

 

Psychologically speaking, we are inherently self-hating. This is a fact. As children, we all internalize our traumas and disappointments and failures to be wholly representative of our own self-worth. And because we all experience trauma, failure and disappointment, we all, to varying degrees, grow up feeling somewhat awful about ourselves. This is not a bug, it’s a feature of human evolution.
We are evolved to be miserable and insecure to a certain degree, because it’s the mildly miserable and insecure creature who is going to do the most work to innovate and survive.
The only real way out of our own self-hatred and self-destructive nature is not declaring how right we are, but rather in accepting how wrong we are. It comes in questioning those base instincts, those knee-jerk judgments. It comes in the courage to question our most closely-held beliefs and fight against the tyranny of our own certainty.
And paradoxically, it’s out of this new uncertainty that the rays of self-acceptance shine through.

– Mark Ronson

Ketika saya melihat-lihat album foto yang lama aku berkata: lihatlah. Kayaknya saya bahagia disaat itu.Tapi bukankah kita memang selalu memotret diri kita saat kita bahagia?

Kan tdk mungkin jg saat kita menangis suram kita memotret diri. 

Tapi hey, saya ingin menghitung hidup ini dengan momen-momen tersebut. Momen-momen bahagia itu. Saya tidak ingin saat tua nanti, di ranjang saya lalu baru berfikir: hey. I had a very good life, I should worry less…

Kue Bolu

Aku selalu termenung apabila melihat potongan kue bolu besar yang terbuat dari telur, susu, dan tepung itu apabila termasuk didalam kue kotak pembagian. Yang pertama kupikirkan adalah. A. Aku tidak suka kue itu. B. Potongannya terlalu besar. C. Rasanya monoton. D. Siapa yang akan membuang-buang waktu membuatnya agar tidak aku makan?

Ini yang sering aku pikirkan ketika pikiranku berkelana. Berkelana saat tidak mendengar seminar atau semacamnya. Memikirkan darimana datangnya hal-hal kecil ini, hal yang aku ingin tahu asal-muasalnya. Seperti misalnya. Anak-anak yang bergoncengan dengan anak-anak lain yang masih sekolah tapi sudah mengebut-ngebut dijalan. Atau siapakah yang mengemas dvd-dvd bajakan. Aku selalu bertanya darimana mereka? Siapa mereka? Keluar dari lubang mana mereka? (Terutama anak-anak begajulan yang naik motor) apa yang mereka pikirkan ketika mengemas plastik dvd-dvd bajakan ini? Siapa yang mengemas kue-kue ini kedalam kotak? Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka bekerja sampai larut malam? Apa mereka keletihan? Siapa mereka? Siapa anak mereka? Apakah mereka menjual kue karena tuntutan ekonomi? Karena suami mereka gajinya tidak cukup? Apa mereka sering menangis dimalam hari? Apa mereka mempunyai banyak masalah? Apa ada penyesalan? Atau malah banyak tawa?

Pikiran-pikiran ini terbang dan berkenala ketika melihat apapun yang datang dari antah-berantah termasuk seonggok kue dengan irisannya terlalu besar untuk kumakan. Biasanya kue itu selalu kubiarkan tercogok menyedihkan didalam kotaknya.

Suatu hari saat aku pulang kerumah aku mendapati ibuku yang mengomel karena tidak bisa menghidupkan oven gas. Ia mengomel karena ayahku satu-satunya yang bisa menghidupkannya tidak kunjung pulang dari pekerjaannya padahal ini sudah magrib. Aku bertanya kepadanya memangnya kue itu harus segera dimasak? Ibuku menjawab tentu saja karena kue itu besok akan di bagikan sebagai kue kotak wisudawan.

Kue itu sama seperti kue yang aku jelaskan diatas. Cetakan dengan bolong ditengah. Ketika mengembang dapat dipotong-potong menjadi banyak kue manis dengan tekstur yang membosankan. Yang akan terkikis apabila tersenggol. Salah satu kue dalam kotak yang akan dimakan oleh para wisudawan.

Setelah itu aku pergi dan saat aku pulang Ibuku masih saja membuat kue itu. Mau tak mau dia kubantu. Ini sudah larut malam. Ayahku selalu marah apabila ibuku memaksakan hal-hal semacam ini, tapi memasak dan bikin kue adalah hobinya. Walaupun gara-gara itu ia jadi tak nafsu makan.

Saat besok kalian membuka kotak kue tersebut dan bertanya-tanya, ketahuilah kue itu asal-muasalnya dari ibuku. Ia membuatnya hingga malam hari. Itu berasal dari suaminya yang marah-marah. Dan berasal dari rumah asri yang dapurnya seperti rumahmu juga. Berasal dari waktu luangnya dan dari adik-adikku yang marah-marah kenapa hari itu ia tidak masak. Dari sukacita menyumbangkan kuenya untuk dimakan.

Saat kau dan aku membuka kotak kue dan menemukan kue bolu membosankan itu dan berpikir dari mana asal-muasalnya ingatlah ia terbuat dari banyak juga tawa.

Dan mulai sejak itu aku memakannya. Dan yang lebih penting pertanyaan-pertanyaan itu terjawab.

Karena Hidup Demikian Adanya

LINIMASA

Ketika akan membuka usaha warteg maka berpeganglah pada kata kunci: lokasi, lokasi dan lokasi.

Ketika kamu dipuji maka cukup katakan pada mereka terimakasih, terimakasih dan terimakasih.

Bagaimana jika kamu seorang lelaki yang saling berkompetisi untuk mendapatkan hati puan jelita? nyaman, nyaman dan membuatnya selalu nyaman.

Ketika kamu begitu nyaman dan dihadapkan pada beberapa pilihan calon pasangan, maka pastikan pasanganmu itu napsuin, napsuin dan napsuin.

Ketika kamu ingin menjadi penulis maka pastikan senantiasa untuk rajin membaca, membaca dan membaca.

Ketika semua berebut memberikan pendapatnya dalam media sosial pastikan anda buta huruf, buta huruf dan buta huruf. Lalu lakukan diet informasi. Pilihlah asupan informasi yang cukup gizi.





Ketika perlu dukungan tentang segala hal. APAPUN itu. Pastikan anda telah berkonsultasi dengan ibu, ibu dan ibu kandungmu (atau setidaknya yang kamu anggap dia ibumu).

Jika kamu ingin bahagia saat asyik-masyuk dengannya, pastikan diakhiri dengan di luar, di luar dan di luar.

Jika…

View original post 199 more words

Rayakan Hidupnya

Sudahlah kawan jangan lagi nestapa

Sedih sedu sedan

Karna ia mungkin sedang tertawa melihat kita 

Dan berkata: “aku tak apa-apa!”


Dan apabila sudah sampai detiknya

Tak satupun kita yg dapat mencegahnya

Tibalah janjinya, tunai semua tugasnya di didunia


Dan sudahlah kawan, jangan lagi tangisi perginya

Rayakan hidupnya

Rayakan hidupnya

Rayakan bahwa di 1 bumi yang luas ini dengan berjuta manusia ntah kenapa kita bisa mengenal dirinya

Rayakan ntah kenapa Tuhan menciptakan mahluk yang sedemikian lucu dan kita pernah tertawa disampingnya bahwa kita pernah saling membahagiakan

Rayakan Tuhan menciptakan mahluk yang sangat menyenangkan dan ntah mengapa menaruhnya hidup tepat ditengah-tengah kita

Rayakan


Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang menyenangkan

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang penuh tawa

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup penuh cinta

Karena 1 kepergian takkan menghapus 29 tahun hidup yang penuh kesenangan, warna-warni, sanjung puji

Karena 1 kepergian takkan menghapus hidup yang berharga, hidup yang bahagia

Karena 1 kepergian takkan berlalu sia-sia, akan menjadi pengingat dan kompas dihati kita semua

Dan karena

ia pergi setelah tertawa bahagia. Dan tepat dipangkuan Ibunda.

Rayakan hidupnya

Rayakan hidupnya


Untuk teman

Rachmat Sutyo (Tyo Rachmat)

 7 Oktober 1985-13 Maret 2015