Kue Bolu

Aku selalu termenung apabila melihat potongan kue bolu besar yang terbuat dari telur, susu, dan tepung itu apabila termasuk didalam kue kotak pembagian. Yang pertama kupikirkan adalah. A. Aku tidak suka kue itu. B. Potongannya terlalu besar. C. Rasanya monoton. D. Siapa yang akan membuang-buang waktu membuatnya agar tidak aku makan?

Ini yang sering aku pikirkan ketika pikiranku berkelana. Berkelana saat tidak mendengar seminar atau semacamnya. Memikirkan darimana datangnya hal-hal kecil ini, hal yang aku ingin tahu asal-muasalnya. Seperti misalnya. Anak-anak yang bergoncengan dengan anak-anak lain yang masih sekolah tapi sudah mengebut-ngebut dijalan. Atau siapakah yang mengemas dvd-dvd bajakan. Aku selalu bertanya darimana mereka? Siapa mereka? Keluar dari lubang mana mereka? (Terutama anak-anak begajulan yang naik motor) apa yang mereka pikirkan ketika mengemas plastik dvd-dvd bajakan ini? Siapa yang mengemas kue-kue ini kedalam kotak? Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka bekerja sampai larut malam? Apa mereka keletihan? Siapa mereka? Siapa anak mereka? Apakah mereka menjual kue karena tuntutan ekonomi? Karena suami mereka gajinya tidak cukup? Apa mereka sering menangis dimalam hari? Apa mereka mempunyai banyak masalah? Apa ada penyesalan? Atau malah banyak tawa?

Pikiran-pikiran ini terbang dan berkenala ketika melihat apapun yang datang dari antah-berantah termasuk seonggok kue dengan irisannya terlalu besar untuk kumakan. Biasanya kue itu selalu kubiarkan tercogok menyedihkan didalam kotaknya.

Suatu hari saat aku pulang kerumah aku mendapati ibuku yang mengomel karena tidak bisa menghidupkan oven gas. Ia mengomel karena ayahku satu-satunya yang bisa menghidupkannya tidak kunjung pulang dari pekerjaannya padahal ini sudah magrib. Aku bertanya kepadanya memangnya kue itu harus segera dimasak? Ibuku menjawab tentu saja karena kue itu besok akan di bagikan sebagai kue kotak wisudawan.

Kue itu sama seperti kue yang aku jelaskan diatas. Cetakan dengan bolong ditengah. Ketika mengembang dapat dipotong-potong menjadi banyak kue manis dengan tekstur yang membosankan. Yang akan terkikis apabila tersenggol. Salah satu kue dalam kotak yang akan dimakan oleh para wisudawan.

Setelah itu aku pergi dan saat aku pulang Ibuku masih saja membuat kue itu. Mau tak mau dia kubantu. Ini sudah larut malam. Ayahku selalu marah apabila ibuku memaksakan hal-hal semacam ini, tapi memasak dan bikin kue adalah hobinya. Walaupun gara-gara itu ia jadi tak nafsu makan.

Saat besok kalian membuka kotak kue tersebut dan bertanya-tanya, ketahuilah kue itu asal-muasalnya dari ibuku. Ia membuatnya hingga malam hari. Itu berasal dari suaminya yang marah-marah. Dan berasal dari rumah asri yang dapurnya seperti rumahmu juga. Berasal dari waktu luangnya dan dari adik-adikku yang marah-marah kenapa hari itu ia tidak masak. Dari sukacita menyumbangkan kuenya untuk dimakan.

Saat kau dan aku membuka kotak kue dan menemukan kue bolu membosankan itu dan berpikir dari mana asal-muasalnya ingatlah ia terbuat dari banyak juga tawa.

Dan mulai sejak itu aku memakannya. Dan yang lebih penting pertanyaan-pertanyaan itu terjawab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s