1

kemuraman adalah aku yang tertunduk, berpikir, melalui bahumu. aku berlari tak tentu arah, bagaikan balita, di dunia yang luas.
dan kau adalah dunia yang lain lagi.
lain lagi namun amatlah gelap. dan sudah berkali kuselami kepekatannya.

dan kemuraman adalah lampu jalan, jawaban renyah yang kuberikan padamu, pada pertanyaan klasik “kemana kita?”
atau “kamu ingin kemana?”
mataku terbuka, tapi apabila ia bisa berbahasa, mungkin ia berbahasa duka.
dan matamu? matamu dan bibirmu selalu dalam satu tarikan benang yang sama, tersenyum menatapku.
tapi telah habis banyak almanak, dan tahun-tahun baru yang kita rayakan, tak kunjung jua sembuh luka.
ia bagaikan seonggok tubuh tengik, penuh sangkal yang kuingin kubur hidup-hidup. dengan apa yang aku yakini benar tanah. kuyakini asli tanah.
dan sudah yakin betul kukubur. kukubur paksa.
namun kadang lelah juga kukubur ia, maka kubiarkan saja. tapi letih pula aku memandangnya, jadi kuusahakan kubur lagi.
namun, karna kau tak mengetahui, dan urung pula aku membaginya padamu, jadi kau diam saja.
tapi letih pula aku menguburnya.
hujan, panas. hujan lagi, panas lagi.
sampai tak mampu kakiku berdiri sendiri, kutolehkan wajahku yang berselimut luka, kepadamu, kepada wajahmu diantara lampu-lampu jalan itu. kepada alismu yang mengkerut, dan tanganmu yang mengepal tanganku. “apakah kau tahu?” suara mataku. namun tetap urung aku membaginya. jadi kutelan saja lagi, sambil melihat jempolku yang tak bergeming.
tapi kakiku kian renta.

sampe peluh, dan airmata menetes aku menguburnya.
akhirnya aku muak sendiri. kukira ia sudah terkubur dalam, namun bila kuandaikan hatiku ini sebidang rumah dan halaman, aku pasti telah salah menguburnya dikolong rumah. terkubur dalam, namun rembesannya, senantiasa mengairi rumah itu. bahkan taman bunganya.
diantara klakson jalan, kuambil nafas dalam-dalam.
dan tiap ingin tidur, kuurai do’a.
namun tak kunjung jua ia pergi.
namun pada akhirnya aku tak perduli.
pada akhirnya aku tak perduli.
terlelap dalam asa. dan pagi bagai neraka. neraka yang diciptakan, oleh kasus yang terselesaikan.
yang aku yakini, terselesaikan dengan cara paling masuk akal.
aku mencintai bahumu, dan bau bajumu.

namun, sampah itu memakanku, memakan jiwa ragaku.

kau genggam tanganku, dan kau tertawa. dan mengapa tertawamu membuatku merasa menjadi mahluk paling sepi didunia.
hingga akhirnya tubuh tengik yang kukubur paksa itu bangkit, tapi tidak melawan, hanya tersadarkan, ia tak perlu kukubur.
hanya perlu kubagi denganmu. walau nyaris terlambat.

kita berbicara, namun yang kudengar hanya bising kepalaku, dan kakiku yang renta. “oh waktu, yang kuminta hanya iba.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s