early twenty

ada yang bilang usia yang paling drama adalah saat early twenty.
apalagi di bidang percintaan. ingat ga rasanya pacaran waktu umur 19-20?
everything just so… fakdap. sinetron, opera sabun, tangis lebay diselingi hujan kalau perlu. ambek-ambekan dan sebagainya.
intinya berdarah-darah. hahaha…
mungkin karna masa peralihan dari umur belasan menjadi twenty ya.
waktu kita remaja, full of playground love, namun kemudian kita tumbuh, dan harus mendapat berbagai ujian-ujian untuk memasuki usia yang menuju ke dewasa.
orang dewasa siiih ga boleh drama-drama lagi!
apalagi kalo berkeluarga, harus mateng emotionally, ya gaaa?

jika anda merasa (eh ini saya sih), drama, dan bagai didalam badai, banyak rintangan, jangan takut apalagi khawatir, itu sekedar ujian untuk ke umur twenty something nanti yang matang. dan mapan.
pribadi yang matang dan mapan. cakep!
I don’t know… 25? 26? sampai kapan jadi mahluk matang dan bebas drama?
well, that’s our decision to make, right?

Advertisements

1

kemuraman adalah aku yang tertunduk, berpikir, melalui bahumu. aku berlari tak tentu arah, bagaikan balita, di dunia yang luas.
dan kau adalah dunia yang lain lagi.
lain lagi namun amatlah gelap. dan sudah berkali kuselami kepekatannya.

dan kemuraman adalah lampu jalan, jawaban renyah yang kuberikan padamu, pada pertanyaan klasik “kemana kita?”
atau “kamu ingin kemana?”
mataku terbuka, tapi apabila ia bisa berbahasa, mungkin ia berbahasa duka.
dan matamu? matamu dan bibirmu selalu dalam satu tarikan benang yang sama, tersenyum menatapku.
tapi telah habis banyak almanak, dan tahun-tahun baru yang kita rayakan, tak kunjung jua sembuh luka.
ia bagaikan seonggok tubuh tengik, penuh sangkal yang kuingin kubur hidup-hidup. dengan apa yang aku yakini benar tanah. kuyakini asli tanah.
dan sudah yakin betul kukubur. kukubur paksa.
namun kadang lelah juga kukubur ia, maka kubiarkan saja. tapi letih pula aku memandangnya, jadi kuusahakan kubur lagi.
namun, karna kau tak mengetahui, dan urung pula aku membaginya padamu, jadi kau diam saja.
tapi letih pula aku menguburnya.
hujan, panas. hujan lagi, panas lagi.
sampai tak mampu kakiku berdiri sendiri, kutolehkan wajahku yang berselimut luka, kepadamu, kepada wajahmu diantara lampu-lampu jalan itu. kepada alismu yang mengkerut, dan tanganmu yang mengepal tanganku. “apakah kau tahu?” suara mataku. namun tetap urung aku membaginya. jadi kutelan saja lagi, sambil melihat jempolku yang tak bergeming.
tapi kakiku kian renta.

sampe peluh, dan airmata menetes aku menguburnya.
akhirnya aku muak sendiri. kukira ia sudah terkubur dalam, namun bila kuandaikan hatiku ini sebidang rumah dan halaman, aku pasti telah salah menguburnya dikolong rumah. terkubur dalam, namun rembesannya, senantiasa mengairi rumah itu. bahkan taman bunganya.
diantara klakson jalan, kuambil nafas dalam-dalam.
dan tiap ingin tidur, kuurai do’a.
namun tak kunjung jua ia pergi.
namun pada akhirnya aku tak perduli.
pada akhirnya aku tak perduli.
terlelap dalam asa. dan pagi bagai neraka. neraka yang diciptakan, oleh kasus yang terselesaikan.
yang aku yakini, terselesaikan dengan cara paling masuk akal.
aku mencintai bahumu, dan bau bajumu.

namun, sampah itu memakanku, memakan jiwa ragaku.

kau genggam tanganku, dan kau tertawa. dan mengapa tertawamu membuatku merasa menjadi mahluk paling sepi didunia.
hingga akhirnya tubuh tengik yang kukubur paksa itu bangkit, tapi tidak melawan, hanya tersadarkan, ia tak perlu kukubur.
hanya perlu kubagi denganmu. walau nyaris terlambat.

kita berbicara, namun yang kudengar hanya bising kepalaku, dan kakiku yang renta. “oh waktu, yang kuminta hanya iba.”

Sensitivity

Tidak ada orang yang jahat.
Sebagaimana tidak ada orang baik.
Orang yang jahat bagimu, belum tentu jahat bagi orang lain.
Begitu juga orang yang baik, belum tentu baik dimata orang lain.
Mengapa?
Karena tingkat sensitivitas setiap orang berbeda-beda.
Karena orang bertindak sesuai dengan kepekaannya masing-masing.
Dan kepekaan & empati yang dimiliki setiap orang berbeda.
Orang jahat dengan caranya sendiri.
Dan orang berbuat baik dengan caranya sendiri.

Bisa saja orang baik disatu sisi, dan terkesan jahat disatu sisi yang lain. Padahal ia tidak jahat, ia hanya tidak peka.
Orang yang bermulut jahat terhadap orang disekitarnya, ternyata tiap pagi bangun memasak nasi kotak, dan membagikannya kepada anak-anak yang menjual koran dilampu merah.
Orang yang sehari-hari tidak ngeh terhadap orang lain dilain waktu membayarkan biaya rumah sakit seorang anak yang tidak punya orang tua. Yang mungkin keluarganya sendiri tidak mau menanggungnya.
Sebaliknya,
Orang yang bermurah hati dan bagai seorang malaikat kepada teman-temannya, bisa saja tega menghardik saudaranya sendiri.
Orang yang kau anggap jahat, bisa saja baik disatu hal lain.
Begitu juga sebaliknya.
Semua berada di satu poros yin dan yang, keseimbangan, hitam dan putih, kepekaannya masing-masing.
Tidak ada yang salah, tidak ada yang salah dengan semua orang.
Dan tidak ada manusia yang sempurna.
Dan begitu juga yang terjadi pada dirimu.
Semua hanya sedang berputar di universenya dan kebenarannya masing-masing.