Sedikit Pertanyaan

Oo Tuhan.

Do’a siapakah yang kau kabulkan hingga hidupku senang dan berkecukupan?

Ibuku kah?

Ayahku kah?

Advertisements

Seorang Bapak

Seorang bapak yg kecewa dengan anak gadisnya hanya menghela nafas berat lalu diam berhari-hari. Dan sholat, dan sholat, dan sholat.

Seorang bapak yang jenuh dengan masakan istrinya hanya akan menunduk sambil mengecap, mengecap, dan mengecap.

Seorang bapak yang letih pulang dari kantornya hanya akan datang, menaruh sepatunya, dan bertanya apa adik-adikku sudah pulang.

Bapak. Kenapa kau sedikit berbicara? Batinku.
Ia berdiam diri. Aku hanya bisa melihat bulu matanya, dan kelopak matanya yang persis sama dengan punyaku.

Seorang bapak yang tidak setuju pendapat istri dan anaknya, hanya akan diam, diam, diam, menunggu sang bijaksana.

Seorang bapak yang pemalu hanya berdiri dan mondar-mandir hanya untuk menunggu ditawari.
Lalu duduk tersipu.

Seorang bapak merasa khidmat melihat anaknya mengunyah makanan yang dibelinya.
Seorang bapak diciptakan oleh dewa dengan kemampuan ikhlas membagi-bagi rezeki.
Sesuatu yang tidak pernah atau jarang ibuku menemukan rasanya.

Seorang bapak diberi kemampuan untuk bangun pagi untuk mengantar anaknya bersekolah tanpa mengeluh. Walaupun dengan mata yang terpejam-pejam dan kancing jaketnya yang aus.

Seorang bapak mempunyai mata terhangat yang pernah kulihat. Mata yang menembus hatimu, dan pelan-pelan menyelimutinya.
Seorang bapak memiliki tangan yang khas. Dengan segala gesturnya.
Yang menepuk-nepuk pantatmu untuk tertidur, dan membelai kepalamu saat kau membuatkannya segelas kopi.

Bapak, adalah diamnya. Diam pada senangnya, marahnya, kecewanya.

Bapak adalah kesetiaan yang tidak dapat diganggu gugat.

Seorang bapak mendengar keinginan-keinginan anak-anaknya setiap hari, menuju ke malam dicatatnya, kemudian dipeluknya untuk tidur, sisanya diutarakannya dido’anya. Dan shalat, dan shalat, dan shalat.