Sadarku.

Tuhan. Kalau boleh kau menghukumku. Kalau boleh memang ini jalanku. Biarkanlah aku terjun bebas lepas landas di dalam ini. Hingga jatuh puingku. Terdampar di sela-sela batu. Hidup lagi, lalu kuyup lagi. Tapi jangan biarkan sadarku hilang. Biarkan aku dapat rasa kerikil yang merobek kulitku kala jatuh. Biarkanlah aku dapat mengecap asin air laut kala aku tenggelam. Biar terluka hingga ulu, biar aku tau.
Biarkan aku sadar kala aku dapat bergerak lambat dalam hela.
Biarkan aku sadar ketika kulihat seberkas cahaya menyala. Berikan aku nyata kala menyentuh bebatuan itu. Kala menyentuh ranting itu. Walaupun kemudian aku tersandung dan terseok lagi. Tapi biarkan aku dapat kembali bersyukur akan adanya akar-akar pepohonan yang menarikku pulang. Berikan aku kesadaran penuh saat menggapai tangan-tangan peduli yang menarikku kembali ke bumi.
Biarkan aku walau tersendat-sendat meraihnya, sadar, sesadar-sadarnya membuka kelopak mata, untuk kemudian menghirup butir-butir air yang kau cipta merintik-rintik bening Tuhan.
Dan lalu tenggelam lagi.
Lalu menyembul lagi.
Hingga letih mataku berair.
Tapi jangan kau hilangkan kesadarran di otakku Tuhan, bahwa aku tenggelam, bukan bermain air.
Bahwa aku berlari dikejar anjing, bukan mengejar layang.
Bahwa aku mengecap manis, bukan memakan gula.
Sampai hingga nanti kuraih daratan dan kukecup putik buah. Dan kurasa debu dari roda perkotaan. Jangan kau hilangkan sadarku dari manisnya embun buah itu. Dan paitnya debu yang kurasa dilubang hidungku. Jangan kau hilangkan suka cita dari manusia-manusia yang menepuk bahuku, merangkul dan berbicara kata sayang, berbahasa bahasa cinta, jangan kau hilangkan sadarku untuk tidak membalasnya dengan cinta.
Jangan kau tutupi mata hati ini. Biarlah jatuh, biarlah bangkit lagi, biarlah hidup lagi.
Biarlah ia sadar, sesadar-sadarnya ia sadar. Ia tenggelam hingga palung dasar, lalu terbang hingga ujung langit. Biarlah ia rasa semua. Untuk kemudian hidup ditengah bumi. Sehidup-hidupnya. Dan berbagi cinta pada semesta.

Bolehkah.

Katanya aku boleh marah, tapi tidak boleh lagi.
Katanya aku boleh menangis, tapi katanya tidak boleh lagi.
Lemah katanya.
Makanya hanya kutengadahkan kepalaku ke awan.
Bolehkah?
Bolehkah awan-awan itu putih?
Bolehkah awan-awan itu biru?
Bolehkah awan-awan itu kelabu,
Lalu tumpahlah ia ke bumi?
Mengapa ia boleh?
Bolehkah Tuhan aku menyesap isak. Sebentar?
Bolehkah?
Bolehkah?
Katanya aku boleh sedih, tapi tidak boleh lagi.
Katanya aku boleh patah hati, tapi kata mereka tidak boleh lagi.
Makanya hanya kutelan suaraku hingga kekolong rongga. Jauh. Sampai jatuh ke hati.
Lalu terisak lagi,
Menyebut, bolehkah?