Bahasa 08.

Seperti pecahan-pecahan kepingan kenangan, datang. Dan menyergap di tiap subuh yang hening. Seakan-akan kepala ini memaksaku untuk rindu. Seakan aku masih di bangku itu. Mendengarkan celotehmu teman, dengan dengungan yang sama di kelas itu. Kakiku menyentuh rongga. Rongga meja. Rongga-rongga setiap lengah yang kugesek debunya.

Apakah kau ingat? Saat aku tertawa, padahal aku sama sekali tak mendengar leluconmu? Atau sebenarnya aku mendengar, tapi aku tertawa saja karena semestinya memang begitu?

Aku benci kenangan, karena detik ini semua itu ilusi. Saat jari-jari ini mendekap meja yang lembab dan kertas putih itu.

Apakah kau ingat, kita selalu membuka lembaran terakhir, apabila kita letih dengan lembaran depan? Kita selalu ingin tahu ujungnya bukan?

Aku tak pernah lupa, tak pernah. Karena segala sesuatu yang ajaib itu akan membekas.
Saat keadaan menjadi sulit, saat semua guru menjadi pemarah dan keseharian itu adalah tekanan. Saat seragammu yg kekecilan kau rasa tak dapat menampung beban. Dan peluh dikerahmu bagaikan karib dekat yang menyebalkan.

Karena, saat kita berada di ruangan yg sama setiap hari dan kau menghisap yg sama, melihat yg sama, berfikir bersama, tertawa bersama, bukankah kita sedikit demi sedikit menjadi org yang sama? Tidakkah kawan? Oh baiklah, bagaimana jika… Saudara?

Untuk teman-teman sekelas angkatan 08. 🙂

–Dari pengamat kalian yang sering mengantuk. Dan berfikir, “how can I pass three year with this shit?” x)

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s