LAST NIGHT.

I think night have their own drugs. membuat kata-kata yang susah diucapkan menjadi gampang sekali diucapkan. membuat kita lose control, lose our mind.
kalian pernah gak menulis atau melakukan sesuatu di malam hari yang kemudian akan kalian sesali paginya? (ahh how can I write thisss sshit?!) haha, sometimes i do. but oftenly i LOVE what i do.

fresh, plong, looooooooooose.

‘own drugs’ means, kadang malam bisa bikin kita kayak orang mabuk, meracau, berfikir ringan, ringan, ringan.
kita bisa saja menyusun rencana di malam hari, untuk dipagi harinya berhamburan lagi–i think reality comes on day, because that damn media always give a bad news on the morning.
pada malam pula saya sering merasa kesepian. (bukan, ini bukan kebelet kawin.)
kesepian karena pada malam hari timbul keinginan untuk mengajak ngobrol seseorang. ketika kau sedang membuka majalah, melihat televisi dan ingin mengomentari orang didalamnya, don’t you miss that part from you’re friends? mengobrol dadakan seperti, ketika kita sedang berfikir, kita spontan ingin menanyakan pendapat teman kita tentang hal itu.

and would it impossible to be with you on the same night?
no?

Mungkin dunia adalah.

Mungkin dunia adalah kain perca yg terlempar dari langit senja, berwarna-warni dan random. Seiring matamu yang menoleh mengajak berkeliling kota, dan mendengar musik harmonis.

mungkin dunia adalah kursi yang membuat kita berbaring memandang langit, santai sambil berbicara tentang rasa sayang. Yahh, mungkin dunia memang tidak seserius itu 🙂

mungkin dunia adalah semilir angin yg masuk lewat kaca jendela, ditemani secangkir teh dan televisi yang bercerita, dan tawa ibu yang sedang mengaduk adonan kue dan ayahku yang membaca koran.

dunia adalah tawa adikku, tangisnya dan ceritanya yang membuatku ingin memeluknya.

Dunia adalah saat aku berbaring dikamarku dan mendengar musik usang, jujur, menjadi diriku sendiri, untuk kemudian bangun pagi.

Dunia adalah angin malam dan tertawa.
Dunia adalah jeda.
Adalah senyum yang kau bagi dan kau aduk rata dengan segelas kopi atau orange juice.
Dunia adalah cinta yang tidak sempurna dan terus kau nikmati dan kau hisap hingga habis asap.
Dunia adalah saat kau tertawa, menangis atas hidupmu. Hidup yang naik-turun ini.

Dunia adalah peluh keringat yang kau seka di dahi dengan nafas yang berkeluh atas beban yang kau bawa.

Dunia adalah amarah, dendam yang tak tertahankan hingga dadamu sesak.

Dunia adalah cita-cita yang menunggu dan tidak berani untuk diungkapkan karna terlalu berhasrat dan takut, persis kekasih yang tidak berani mengatakan cintanya.

Atau…
Dunia adalah saat kita duduk dan bertukar dengar musik yang kita suka dengan obrolan yang keren, haha 🙂

dunia adalah ilusi waktu. Karna aku disini, berbaring sejajar memegang lutut, tersenyum karna aku mulai menikmati perjalanan yang kukayuh bukan dgn tidak susah payah.

Dengan orang-orang yg pergi dan lalu lalang.

Dan berusaha mengecap manis tiap ‘rasa’ menikmatinya, sambil belajar.

Mungkin dunia adalah tulisan simpel seseorang, dengan bahasa yang sederhana.
Dunia mungkin kenangan.
Manis, damai, abstrak.

”Aku cinta kehidupanku dengan segala proses didalamnya.”

–by Novella Tantia Putri on Wednesday, September 23, 2009 at 12:21am

Somebody

seberapapun berubahnya diri kita sekarang, seberapa inginnya kita menjadi orang lain.
akan ada 3 hal yang selalu mengingatkan kita tentang rendah hati, tenggang rasa,
dan kepolosan.
Pertama, dia adalah diri kita sendiri dari masa lalu. Dan 1 lagi adalah orangtua kita dengan semua wejangan dan ajarannya yang membekas. satunya lagi adalah hati nurani.

I wanna be that girl, I don’t wanna be some bad evil.

Bahasa 08.

Seperti pecahan-pecahan kepingan kenangan, datang. Dan menyergap di tiap subuh yang hening. Seakan-akan kepala ini memaksaku untuk rindu. Seakan aku masih di bangku itu. Mendengarkan celotehmu teman, dengan dengungan yang sama di kelas itu. Kakiku menyentuh rongga. Rongga meja. Rongga-rongga setiap lengah yang kugesek debunya.

Apakah kau ingat? Saat aku tertawa, padahal aku sama sekali tak mendengar leluconmu? Atau sebenarnya aku mendengar, tapi aku tertawa saja karena semestinya memang begitu?

Aku benci kenangan, karena detik ini semua itu ilusi. Saat jari-jari ini mendekap meja yang lembab dan kertas putih itu.

Apakah kau ingat, kita selalu membuka lembaran terakhir, apabila kita letih dengan lembaran depan? Kita selalu ingin tahu ujungnya bukan?

Aku tak pernah lupa, tak pernah. Karena segala sesuatu yang ajaib itu akan membekas.
Saat keadaan menjadi sulit, saat semua guru menjadi pemarah dan keseharian itu adalah tekanan. Saat seragammu yg kekecilan kau rasa tak dapat menampung beban. Dan peluh dikerahmu bagaikan karib dekat yang menyebalkan.

Karena, saat kita berada di ruangan yg sama setiap hari dan kau menghisap yg sama, melihat yg sama, berfikir bersama, tertawa bersama, bukankah kita sedikit demi sedikit menjadi org yang sama? Tidakkah kawan? Oh baiklah, bagaimana jika… Saudara?

Untuk teman-teman sekelas angkatan 08. 🙂

–Dari pengamat kalian yang sering mengantuk. Dan berfikir, “how can I pass three year with this shit?” x)

Posted with WordPress for BlackBerry.

The National – Conversation 16

I think the kids are in trouble

Do not know what all the troubles are for
Give them ice for their fevers
You’re the only thing I ever want anymore
Live on coffee and flowers
Try not to worry what the weather will be
I figured out what we’re missing
I tell you miserable things after you are asleep

Now we’ll leave the silver city ’cause all the silver girls
Gave us black dreams
Leave the silver city ’cause all the silver girls
Everything means everything

It’s a Hollywood summer
You never believe the shitty thoughts I think
Meet our friends out for dinner
When I said what I said I didn’t mean anything
We belong in a movie
Try to hold it together ’til our friends are gone
We should swim in a fountain
Do not want to disappoint anyone

Now we’ll leave the silver city ’cause all the silver girls
Gave us black dreams
Leave the silver city to all the silver girls
Everything means everything

I was afraid, I’d eat your brains
I was afraid, I’d eat your brains
‘Cause I’m evil
‘Cause I’m evil

I’m a confident liar
Had my head in the oven so you’d know where I’ll be
I’ll try to be more romantic
I want to believe in everything you believe
I was less than amazing
Do not know what all the troubles are for
Fall asleep in your branches
You’re the only thing I ever want anymore

Now we’ll leave the silver city ’cause all the silver girls
Gave us black dreams
Leave the silver city to all the silver girls
Everything means everything

I was afraid, I’d eat your brains
I was afraid, I’d eat your brains
‘Cause I’m evil
‘Cause I’m evil
‘Cause I’m evil

Taken from High Violet Album.

Berninger, as always, is extremely self-deprecating although this song unusually contains some justification for his self-pity.

He’s afraid that he’ll become a “zombie” in life.

The verses (and a lot of the album) describes these really mundane, everyday rituals of family life and moving on into middle age. The narrator is just going with the flow: doing what is expected of him, not disappointing anyone, reading the script of his movie, keeping his shitty thoughts to himself and only telling his wife about them after she’s asleep. It’s making him turn into a “zombie” though… he’s becoming less enthused about life, he’s unable to express himself, going through the motions, becoming a “confident liar,” etc.

In the last verse he states all of the anti-zombie things he wants: to be romantic, to believe, to be safe, to continue loving his wife… but he’s ultimately afraid he’ll “eat her brains”. He’s afraid that the ritual of everyday life will strip him of his appealing aspects until he’s unable to feel emotion (like a zombie) and cause him to do harm to the person he loves and wants the most (eat her brains).

Because he’s evil.

i feel the same too, sometaiims