Honestly.

Kita adalah 2 sisi.
Untuk itu, aku sangsi bila tak mengatakan, mengaku, apa yang kurasakan sekarang atau apa yang kupendam kemarin atau detik ini.
Bagiku lelaki yang jadi pacarku harus lebih dari sekedar ‘orang yang berstatus pacar’ bukan tujuanku atau kita untuk menyempitkan makna itu dan act seperti 2 orang yang pura-pura ‘seperti pasangan mesra’, bukan.
Seorang lelaki itu adalah seseorang yang tau siapa aku. Luar dalam.
Makanya dalam keadaan menangis atau marah aku selalu, selalu berkata jujur. Sesedih apapun, semenyakitkan apapun, bhkan tak ad lg istilah ‘jual mahal’.
Karna aku tak pernah berusaha mencari sosok perfect lain, aku brusaha mencari, menggali, ‘melihat’, mengawasi didirimu.
Kalau kau tidak bisa menjaga, membimbing, hati dan jiwa perempuan labil ini skarang, buat apa aku membutuhkanmu nanti?

Untuk itu, haha, aku menobatkanmu menjadi orang yang paling tau siapa aku.
Karna jujur, aku tak pernah merasa gampang membicarakan kelemahan, kekurangan, kerapuhan, masa lalu, cita-cita, bila tidak denganmu.
Didepanmu, aku tak terdefense. Dimatamu aku merasa telanjang. Didekatmu aku menjadi mahluk aktif & melankolis.

Ketika ingin berkata jujur tapi bahkan aku tak mampu, kita kadang tak bisa memandang mata 1 sama lain, tapi kita tetap ingin jujur, right?

Kita tak tau definisi pcaran serius itu apa, karena aku tak mngerti mengapa hubungan yg serius harus dikaitkan dengan aturan2 komplex, karna jelas orang yg menikah saja bisa cerai, bagiku apabila kita faith, dan yakin dgn cinta dan apa yang kita jalani, itu serius.

Aku tak mau sombong mengatakan kau yang trakhir, tapi seperti yang slalu kita bilang dgn ikhlas dan pasrah ‘i hope so…’ atau ketika kita ingin mmiliki sesuatu ‘someday…’
Aku tak pernah tau apa yang masa depan bawa untuk kita, but so far we’r good.

Dan terlalu terlambat, bodoh dan asing jika kita ingin menghentikan ini semua. Hopely i’m ready for happy or bad ending. Hope i’m mature enough day by day.

For someone you know this for you, yay!

Kapankah Kamu Merasa Sendiri?

Kapankah kamu merasa sendiri?
Saya merasa sendiri ketika saya MERASA mengenal SANGAT BAIK orang yang saya percaya tapi ternyata saya SALAH.
Saya merasa sendiri ketika saya dikelilingi orang ramai tapi saya sedang HAMPA.
Saya merasa sendiri ketika saya mendapati masalah yang terlalu personal dan merasa saya tidak dapat membaginya dengan siapapun.
Saya merasa sendiri ketika saya masuk ke kamar dan rasa sendiri itu menyergap entah darimana.
Saya merasa sendiri ketika saya merasa KALAH, merasa melakukan yang THE BEST tapi akhirnya saya harus kecewa.

Sebaliknya,
saya tak pernah merasa sendiri apabila saya ditemani seorang teman ngobrol yang tau SIAPA SAYA SEBENARNYA. Yang hanyalah manusia sentimental seperti kamu, mungkin.
Saya tidak merasa sendiri ketika saya bersama kelompok kecil saya, berbicara tentang masalah-masalah kami, berlomba mengutarakan pendapat dan berbagi tawa.

Saya tidak merasa sendiri ketika saya menyanyikan anthem konyol bersama seorang sahabat kental dari SMP diatas motor walaupun mungkin kami sedang berduka.

Saya tidak merasa sendiri ketika saya menyadari bahwa pasti selalu ada HARAPAN ditiap KEKOSONGAN, dan saya tidak perlu berlari mencarinya saya tinggal menunduk dan melihat kebahagiaan itu adalah tempat saya berpijak. Saya tidak merasa sendiri ketika saya menyadari bahwa satu tetes air mata tidak memberi efek kepada dunia dan jagatnya yang luas ini. Dan KEHILANGAN adalah kodrat manusia untuk MERASAKANNYA.

Saya tidak merasa sendiri ketika tersadar saya punya Allah dan cara termudah mendekatiNYA adalah dengan BERSYUKUR. Saya tidak merasa sendiri karna Allah telah menggariskan ada 2 orang manusia yang akan menjadi Ayah dan Ibu saya dan tali itu tak akan dipisahkan oleh APAPUN.

Sedari kecil saya salah jika mengartikan perasaan sendiri adalah ketika saya ditinggalkan sendiri dijalanan, ketika saya harus pulang ke rumah yang sepi, karna jika kita punya hati yang lapang kita tak akan pernah merasa sendiri.

Buat teman-teman yang lg merasa ‘SENDIRI’.

Novella.